Menuju Sejarah Kami

Bismillahirrahmannirrahim.. “Dan diantara tanda-tanda Kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar – Arum : 21)

Assalamu’alaikum Warahmatullahhi Wabarakatuh

Ya Allah Ar Rohman Ar Rohim. Sesungguhnya hati ini telah terhimpun dalam cinta dan bertemu dalam taat kepada-Mu.
Eratkanlah ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, berkahilah jalannya dan penuhilah hati ini dengan cahaya-Mu yang tak pernah pudar.

Dengan mengucap syukur yang tak terhingga atas berkah dan karunia Allah SWT, kami bermaksud mengucap ikrar suci kami :
Mirtha Vivo, S.Pd.
dengan
Syahdami, S.Si.

Rasa haru dan bahagia terukir dihati kami atas limpahan Rahmat Allah SWT dan kami memohon Ridho-Nya, Insya Allah akan dilaksanakan pada : 📆 Minggu, 01 Mei 2016
🏡 Ds. Gedung Agung, Lingkungan V (Danau Nangka), Kec. Merapi Timur, Kab. Lahat, Sumatera Selatan

Akad Nikah ⏰ Pukul 08.00 – 09.00 WIB
Walimatul Ursy
⏰ Pukul 10.00 WIB – Selesai

Ngunduh Mantu di kediaman mempelai pria :
📆 Hari/ Tgl : Rabu, 11 Mei 2016
⏰ Pukul : 08.00 WIB s/d Selesai
🏡 Tempat : Desa Kerta Negara, Dusun III (Talang Gading), Kec. Madang Suku II, Kab. OKU Timur, Sumatera Selatan.

Merupakan suatu kehormatan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Sdr/i berkenan hadir.

Undangan ini sebagai pengganti tertulis dari undangan cetak yang terbatas karena ketidakmampuan waktu dan jarak dari kami. Semoga tidak mengurangi makna isinya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahhi Wabarakatuh

Kami yg berbahagia
Keluarga Besar
Vivo & DamiP_20160425_131639

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Beda Mirna, Beda Pula Munir

 

munir dan mirna

Kalau ditanya “anda tau dengan nama Mirna?”. Barangkali hampir mayoritas masyarakat Indonesia ini tau dengan nama itu. Sebab korban pembunuhan dengan cara diracun ini kasusnya nyaris setiap waktu menghiasi pemberitakan media masa di Indonesia. Sejak kematiannya Januari 2016 lalu sampai sekarang media masa baik itu elektronik maupun cetak setiap hari membuat berita perkembangan kasus Mirna.
Tapi kalau ada yang bertanya “apakah anda tau dengan nama Munir?” Mungkin hanya sebagian kecil masyarakat di Indonesia ini yang tau dengan nama yang satu ini. Walaupun kasus pembunuhannya ‘mirip’ dengan Mirna, kedua korban itu meninggal karena diracun. Namun karena rentang waktu yang sudah cukup lama kasusnya terjadi tepatnya September 2004 alias sudah 12 tahun berlalu. Barangkali orang sudah banyak yang lupa mengenai kasus pembunuhan Munir ini. apalagi menurut saya kala itu pemberitaan media masa tak ‘sebombastis’ kasusnya Mirna saat ini.

Kebutulan sekali beberapa hari ini saya sedang membaca buku yang berkaitan dengan kasus pembunuhan Munir. Judul bukunya “Kasus Pembunuhan Munir, Kejahatan Yang Sempurna?” yang ditulis oleh Wendratama, cetakan tahun 2009. Buku yang sebenarnya sudah lama saya beli namun baru tertarik membacanya belakangan ini. Ada beberapa persamaan dan perbedaan dalam kedua kasus pembunuhan terhadapa kedua korban antara alm. Munir dan almh. Mirna yang layak dicermati.

~Persamaan

Pertama, antara korban Munir dan Mirna menariknya nama keduanya punya kemiripan diawali dengan huruf “M” serta terdiri dari lima huruf untuk nama panggilan dan ada gabungan tiga kata dalam nama lengkap mereka. Nama lengkan Mirna itu Wayan Mirna Sholihin, sedangkan Munir punya nama lengkap Munir Said Thalib.

Kedua, sama-sama dibunuh dengan cara diracun, racun yang digunakan pun sama-sama sangat mematikan. Mirna dibunuh dengan racun jenis Sianida, sedangkan Munir menggunakan racun jenis Arsenik.

Ketiga, lokasi peracunan keduanya sama-sama di ‘warung kopi’. Mirna di racun oleh temannya sendiri (dalam hal ini tersangka Jessica Kumala Wongso) di Kafe Olivier, Jakarta. Adapun Munir menurut putusan PK Mahkamah Agung (MA) diracuni oleh terpidana Pollycarpus Budi Priyanto (pilot Garuda Indonesia) di Coffe Bean bandara Changi, Singapura. Dalam perjalanannya penerbangan Jakarta (Indonesia) – Uttrech (Belanda) yang transit di Singapura.

~Perbedaan

Dengan tidak menafikan bahwa kedua orang ini adalah korban pembunuhan berencana yang sangat sadis. Namun pada kedua kasus pembunuhan ini ada perbedaan yang mencolok menurut saya.

Pertama pemberitaan media masa, pada kasus Mirna seperti yang saya utarakan di awal tadi media masa seolah-olah berlomba untuk menghadirkan perkembangan kasus dari waktu ke waktu. Media Televisi, Koran, Online, dll, ada saja berita yang dihadirkan pada pemirsanya. Sangat berbeda dengan kasus pembunuhan Munir, pemberitaan media tak ‘sebombastis’ kasus Mirna.

Perbedaan berikutnya rentang waktu penyelidikan kasusnya. Bila kasus Mirna ‘hanya’ butuh waktu kurang dari satu bulan polisi sudah mampu menetapkan tersangka dan berikut motifnya (pengakuan polisi di media sudah diketahui dan akan diungkap di pengadilan). Untuk kasus Munir butuh waktu lebih lama paling tidak enam bulan dari September 2004 sampai Maret 2005 polisi baru mampu mengungkap tersangka pembunuhan, namun belum mampu mengungkap motifnya hingga hari ini.

Perbedaan terakhir yang mungkin adalah awal dari semua perbedaan yang ada bahwa Munir adalah aktivia HAM yang sangat vokal mengkritisi kebijakan penguasa dalam hal penegakan HAM di Indonesia dan sedikit banyak telah dikenal masyarakat luas karena kiprahnya. Ia ikut mendirikan LSM Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) dan Imparsial. Ada pun Mirna yang sebelum kasus pembunuhannya tak pernah dikenal namanya di kalangan masyarakat luas, namun ia merupakan anak dari pengusaha top Indonesia Darmawan Sholihin yang kaya raya. ‪#‎MelawanLupa‬

*sudah pernah saya posting di Facebook

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Bersaing Dengan Syeikh

Tersebutlah seorang Syeikh yang tengah berjalan bersama dengan murid kesayangan. Sang Syeikh bertanya kepada muridnya. “Bagaimana pendapatmu tentang si Fulanah? Apakah dia termasuj akhwat yang sholehah?”

Mendengar pertanyaan sang Syeikh, dan ia tau maksud gurunya itu, si murid menjawab, “Sungguh, aku pernah melihatnya dicium oleh seorang laki-laki.”
“Apakah yang kau sampaikan itu benar?” tanya sang Syeikh penuh rasa heran.
“Iya” jawab si murid mantap.

Selang beberapa pekan, sang Syeikh tidak menjumpai muridnya. Si murid izin tidak hadir di majelis gurunya itu karena akan melangsungkan akad nikah.

Lalu, betapa terbelalaknya sang Syeikh ketika melihat muridnya itu berjalan bersama si Fulanah seraya bergandengan tangan. Demi mencegah timbulnya buruk sangka, sang Syeikh pun memanggil muridnya itu.

“Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu bergandengan tangan dengannya? Bukankah kamu telah menikah?” tanya sang Syeikh.
“Maaf, ya Syeikh. Fulanah ini sudah menjadi istriku.” Jawab si murid sembari menundukkan pandangan pertanda hormat.
“Loh? Bukannya kau bilang bahwa Fulanah pernah dicium oleh seorang laki-laki? Kenapa kau mau menikah dengannya?” kejar sang Syeikh meminta penjelasan.
“Benar, ya Syeikh,” kata si murid menjelaskan teriring senyum malu-malu, “Yang saya maksud dengan seorang laku-laki yang mencium Fulanah adalah ayahnya.”
Syeikh, “@#&@*@!^#&!&@*”
Sekian…
(Majalah Al-Intima edisi 68)

*sudah pernah saya posting di Facebook

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Penyakit Lisan “Balaghi” Memfasih-fasihkan Pembicaraan

Salah satu penyakit lisan yang disebutkan dalam buku “Retorika Haraki” karya Amiruddin Rahim, tepatnya di halaman 65-66 adalah berfasih-fasih dalam berbicara untuk menarik perhatian (at-taqa’ur fil kalam).

Berbicara fasih, jelas, terang merupakan tuntutan dalam berkomunikasi agar tidak menimbulkan ketaksamaran makna. Namun, menfasih-fasihkan atau memaksakan diri berbicara fasih dengan maksud mendapatkan perhatian dari orang lain merupakan sikap tercela. Rasulullah saw, bersabda:
“Sesungguhnya Allah murka kepada orang yang sangat balaghi (dalam berbicara), yang memutar-mutar lisannya seperi lembu yang memutar-mutar lidahnya.” (HR. Abu Daud)

Dalam kitab An-Nihayah dikatakan, “tasyaddu fil kalam” maksudnya melipatnya lidah seperti lembu yang melipat rumput dengan lidahnya. Diumpamakan di sini dengan lembu karena binatang-binatang yang lain mengambil makanan dnegan gigi, sedangkan lembu mengumpulkan makanan dengan lidahnya. Orang yang pada dasarnya “balaghi”, maka itu tidak apa-apa.

Dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa belajar berlebih-lebihan (dalam mengungkapkan) pembicaraan untuk menarik hati manusia, maka Allah tidak akan menerima pada hari kiamat tobat dab fidyahnya.” (HR. Abu Daud)

Kata “sharful kalam” dalam hafits ini maksudnya adalah melebih-lebihkan ungkapan ran menjadikan lisan tufak berbicara seperlunya.

Salah satu modal untuk dapat diterima dalam menjalin hubungan dengan orang lain adalah menarik perhatian. Untuk itu kerap kali orang berakting untuk mendapatkan perhatian orang lain. Namun kadang kala orang sering kebablasan dalam akting yang dimainkan, sehingga sering dijuluki “over acting”, sok gagah, sok fasih. Memfasih-fasihkan lidang mengandung unsur manipulasi, yaitu ingin meyakinkan orang lain bahwa dirinya memiliki kelebihan, padahal sebenarnya tidak demikian. Misalnya saja ada orang yang sering menggunakan aksen Inggris untuk menunjukkan bahwa dia dapat berbahasa Inggris, atau dengan aksen Arab untuk menunjukkan bahwa dia dapat berbahasa Arab, walaupun pada kenyataannya tidak demikian. Inilah yang dibenci oleh Allah swt.

Menurut penulis (bukan penulis buku-red) bahwa sebaiknya berhati-hatilah ketika berkomunikasi baik dalam lisan ataupun tulisan dalam konteks pemakaian aksen-aksen asing ataupun istilah-istilah asing yang orang lain sulit mengerti, agar jangan sampai kita termasuk ke dalam orang-orang yang memfasih-fasihkan pembicaraan. Allahu’alam…

*sudah pernah saya posting di Facebook

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tahukah kau bulan betapa aku selalu merinduimu?

Serindu rerumputan yang telah lama kekeringan, menanti jatuhnya butiran hujan.

Sejak kali pertama kita bersua, sungguh aku telah kagum padamu.

Kekagumanku beralasan, tersebab kau bercahaya meski tak selalu begitu

Namun cahayamu itu telah mampu menerangi jalanan gelap ditengah pekatnya malam.

Hari-hari ini aku bersusah hati, berduka jiwa dan bersedih pikir oleh karena persahabatanku denganmu.

Iya persahabatan kita yang tlah terjalin indah, harus terburai putus.

Sedari dulu aku sangat menikmati disetiap kali berjumpa denganmu.

Biarpun tak pernah kita hanya berdua saja, sebab selalu ada bintang-bintang yang menemani malam.

Aku sadar bulan ini semua karena salahku,

Aku tak mampu menjaga lisan, laku, dan pikirku.

Hingga kau tak sudi lagi bersua denganku,

Oh bulan sungguh aku menyesal, telah berbuat begitu padamu.

Izinkanlah aku menghaturkan pinta maaf kepadamu,

Aku tahu ini takkan cukup ‘menghapus’ dosaku yang kadung tertulis.

Juga takkan bisa merubah dan mengembalikan segalanya

Namun hanya ini yang dapat aku buat, sementara ini.

Dariku si Pungguk  yang selalu merindukan Bulan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ku Ceritakan Padamu

Hari ini tanggal 7 Desember 2015 bertepatan dengan hari senin pukul 18.21 wib, selepas sholat maghrib di sebuah mushollah dekat kosatan kami di salah satu sudut Kota Pempek. Saya hanya ingin bercerita padamu, iya pada kalian yang katanya peduli dengan hal ini atau peduli padsaya atau pun padanya. Cerita ini ku mulai dari pagi tadi, saat saya mengganti foto profil di Blackberry Messengger (BBM) yang lebih keren disebut DP dan foto profil di Facebook (FB) yang lebih keren disebut PP. Setelah saya mengubah DP dan PP berdatanganlah komentar baik di BBM dan FB tadi bernada protes padsaya, padahal sebelumnya saya juga sudah mengupload foto yang sama di Media Sosial (Medsos) lain diantaranya Whatshap (WA), Line, Istagram (IG) dan Twitter tapi tak terlalu ‘heboh. Barangkali karena FB dan BBM lebih ramai penggunanya dan oleh karenanya hanya sedikit yang berkomentar. Sementara di kedua medsos baru dua menit saja sudah hampir puluhan komentar/ inbok yang masuk hingga akhirnya saya putuskan untuk mengganti DP dan PP itu, di BBM foto DP itu bertahan hanya 15 menit saja dan di FB kurang lebih bertahan tak lebih dari 20 menit.

Foto yang ku upload ini adalah fotoku ketika waktu itu sedang merayakan hari bertambah nama belakang/ gelar (wisuda ke 112 di Unsri). Tepatnya mei 2014 yang lalu, foto itu adalah fotoku bersama dua orang lainnya yang keduanya kebetulan wanita (akhwat), sebut saja mereka NS dan WD. Masalah mulai muncul setelah saya bersama beberapa teman terutama yang sekamar denganku di Rumah Susun Mahasiswa (Rusun) dulu dan beberapa tetangga lainnya semuanya laki-laki (ikhwan) melihat-lihat foto wisuda itu pasca beberapa hari dari acara seremoninya. Setelah itu ternyata ada seorang akhwat lain yang lebih senior dari NS menanyakan prihal foto itu kepada NS, si penanya ini tau dari seseorang ikhwan yang mengsaya pernah melihat foto itu. Dan akhirnya si NS bercerita padsaya serta memintsaya untuk menghapus foto itu, namun saya keberatan karena menurutku tidak ada yang salah dengan foto itu. Selesai sudah saya pikir semua berjalan baik-baik saja sampai akhirnya saya kemudian memulai aktivitas di luar kampus serta si NS juga lulus dari studinya dan beliau kembali ke kota kelahirannya.

Sebelum saya lanjutkan ada baiknya saya bercerita tentang relasi saya dan NS. Terus terang saya memang cukup punya kedekatan dengan NS semasa masih aktif menjadi mahasiswa di kampus dulu. Pertama kali karena dulu kami punya komunitas sebut saja IS yang coba merintis sosial preneurship. Walau sebelumnya memang sudah pernah ada komunikasi dengan beliau, namun tak seintensif setelah berada di IS. Tambah intensif lagi ketika kami merancang penulisan buku antologi yaitu kumpulan tulisan dari anggota IS, kebetulan saya ketua tim perumus dan NS serta tiga orang akhwat lainnya menjadi anggota tim perumus buku. Sehingga komunikasi antara saya dengan NS ini cukup intens membahas program dan/ atau hal lainnya. Bahkan setelah beliau sudah jauh di kotanya saya masih sering berkomunikasi dengan beliau untuk menuntaskan percetakan buku yang ternyata belum kesampaian semasa kami masih di kampus, NS dan satu anggota tim lainnya yang telah jauh juga di kota Bangka sering kali saya minta untuk mengerjakan tugas komponen pelengkap penulisan buku itu. Kedekatan itulah yang membuat saya dan NS sedikit banyak tak punya rasa canggung untuk bercanda dan/ atau bercerita baik itu langsung atau hanya sekedar berkomen ria di sosial media.

Lalu setelah buku yang kami rancang itu berhasil dicetak dan disebarluaskan, komunikasi saya dengan NS mulai jarang dikarenakan kesibukan serta ketidakadanya kepentingan yang mendesak lagi, meskipun sesekali tetap ada walau hanya sekedar menyapa. Pasca setahun lebih saya wisuda belakangan saya merasa ada yang perubahan sikap NS terhadapku, ia nampak sinis ketika berkomentar di grup WA komunitas IS yang kuceritakan tadi dan juga sinis berkomentar di status Ignya ketika saya berkomen ria. Awalnya saya merasa biasa saja dan berusaha berhusnuzhon kepada beliau, namun ada seorang teman yang satu komunitas tadi menyatakan pandangan yang sama denganku tentang kesinisan NS ini. Maka saya yang tidak ingin adanya silaturahmi yang rusak diantara kami, berusaha mengkonfirmasi perasaan itu. Pada awalnya beliau tak serta-merta mengakui hal itu, namun pada akhirnya beliau bercerita bahwa akar masalahnya adalah pada foto itu (foto wisuda). Beliau bercerita banyak hal bahwa beliau dilapori seorang informan yang lagi-lagi iikhwan teman saya sebut saja IN mengenai foto itu disertai katanya pernah berkomentar dengan kalimat yang menurut NS sangat mengecewakannya. Menurut si IN bahwa saya mengucapkan kalimat itu di momen buka bareng di ramadhan satu tahun lalu tepat setelah beberapa bulan saya wisuda, buka bareng itu antara saya dan teman AGENDA’08 ikhwan. Saya bingung sebab seingat saya kami (AGENDA’08) itu secara resmi tidak pernah melaksanakan buka bareng itu baik semasa masih aktif di kampus apalagi ramahdan 2014 yang notabene para anggota AGENDA’08 sudah banyak yang menjadi sarjana. Secara otomatis bila buka barengnya tidak ada apalagi ucapannya, acara buka bareng itu sudah saya tanyakan ke beberapa ikhwan anggota AGENDA’08 dan mereka pun mengkonfirmasi tidak pernah ada acara itu.

Kemudian melalui pesannya pula NS menyampaikan keinginannya memutuskan silaturahmi dengan saya karena selama ini beliau memendam perasaan marah dan kecewa kepada saya. Kata beliau semakin sering beliau berkomunikasi dengan saya maka rasa sakit hatinya akan semakin besar, sehingga beliau meminta saya menunfollow dan/ atau menghapus seluruh kontak di akun medsos begitupun dengan beliau akan melakukan hal yang sama. Yang lebih parah lagi beliau meminta saya untuk melupakan serta menganggap bahwa saya dengan beliau seolah tidak pernah saling kenal karena beliau jikalau sudah kecewa tak mampu lagi memaafkan. Saya kesal dengan kondisi ini, sebab saya dituduh berbuat kejahatan namun hak-hak saya sebagai seorang muslim untuk dimintai klarifikasi (tabayyun) tak ditunaikannya. Begitupun kaidah seorang muslim yang dituduh berbuat kejahatan wajib dibuktikan oleh yang menuduh dalam hal ini si IN pemberi informasi sekaligus penuduh dalam hal ini. Pembuktiaan dalam islam itu adil kalau seseorang menuduh orang lain berbuat kejahatan maka ia harus membawa saksi minimal dua orang selain dirinya untuk kejahatan di laur perzinahan, apabila kasusnya adalah tuduhan perzinahan maka si penuduh harus membawa saksi minimal empat orang selain dirinya disertai bukti lain kalau ada. Semua hak dan kaidah itu diabaikan dan dirampas oleh NS, beliau dengan serta merta langsung ‘menvonis’ saya bersalah.

Akhirnya saya meminta pada NS untuk memberitahukan siapa IN? Dan apa ucapan yang dituduhkan pada saya? Sebab saya merasa tidak pernah melakukan hal itu, jadi saya minta saya dan IN dikonfrontir untuk membuktikan siapa yang benar. Namun NS menolak dengan alasan rahasia dan menjag amanah dari si IN untuk tidak membuka infromasi itu kepada siapapun serta meminta saya untuk mencari sendiri siapa dan apa informasi itu. Saya mencoba mereka-reka ulang apakah ada momen acara buka bareng dan ucapan itu, namun keterbatasan memori saya disertai konfrimasi dari beberapa teman tadi meyakinkan saya bahwa hal itu tidak pernah ada. Dengan segala upaya saya coba meminta NS untuk membukanya namun jawaban yang saya dapat masih tetap sama. Pada akhirnya saya mengancam NS akan melakukan hal yang bisa saya lakukan dengan apa yang saya punya, ‘keteguhan hati’ NS boleh diacungi jempol sebab ia tak bergeming. Baiklah saya coba mengurangi permintaan bahwa saya hanya minta nama IN dan ucapan yang dituduhkan pada saja tak lebih, saya tak akan melakukan apapun setelah itu. Keinginan saya itu saya sampaikan ke sahabatnya NS yang ternyata tau masalah ini, beliau ketika masalah ini mencuat menghubungi saya. Saya tidak tau darimana beliau ini sebut saja TA tau masalah saya dengan NS. Beberapa kali saya coba menghubungi NS melalui BBM, WA serta menelepon namun ternyata akun medsos saya sudah diblokir oleh NS dan telepon saya tak pernah dijawab.

Dan endingnya kamu tahukan saya membuktikan ucapan saya, sebab saya hanya menghormati kaidah pribahasa arab “Laki-laki itu dinilai dari perkataannya …”. Saya lakukan apa yang saya bisa yaitu mengupload foto yang tadi sudah kamu lihat. Sebenarnya saya tak pernah berharap ini terjadi, namun inilah kenyataan yang harus saya terima. Ancaman yang harus berbuah kenyataan, saya tau konsekuensinya dengan melakukan itu. Saya hanya berharap kamu menilai hal ini dengan cara lebih objektif, saya akui ini salah namun kesalahan ini tak berdiri sendiri. “… Dan janganlah kebencianmu kepada suatu kaum, mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) lebih dekat dengan takwa…” (Q.S Al-maidah: 8). Mengutif ungkapan Pramoediya Ananta Toer “Berlaku adillah semenjak dalam pikiran apalagi perbuatan”. END

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Dari Yang Tertinggal

Siapa yang tak kenal Umar Bin Khatab ra? Hampir setiap muslim dan bahkan non muslim pun mengenal namanya. Setiap kali orang bertanya tentang sahabat Rasulullah SAW hampir pasti namanya akan selalu disebut setelah nama Abu Bakar as Siddiq ra. Sahabat Rasulullah SAW yang satu ini termasuk dalam 10 orang yang dijamin masuk syurga oleh Sang Nabi. Sahabat ini berjuluk Al Faruq yang artinya dapat memisahkan antara yang haq dan yang batil. Beliau juga sangat ditakuti oleh kaum quraisy bahkan setanpun mencari jalan lain bila berpapasan dengan beliau.

Banyak pelajaran yang bisa petik dari setiap lembar sejarah kehidupan khalifah kedua di masa khalifaturrasyidin ini. Di tiap jengkal perjalannya ada saja sisi yang bisa diambil hikmahnya. Salah satu pelajaran yang paling berharga adalah bagaimana Umar yang dahulunya orang yang ‘tertinggal’ menjadi yang terdepan dalam menjalankan islam, bahkan menjadi salah satu tokoh penting dalam islam.

Di berbagai buku sirah, baik itu sirah nabawiyah ataupun sirah sahabat cerita masuknya Umar kedalam islam selalu hadir dalam pembahasan. Salah satu yang menarik adalah petikan dialog beliau dengan para sahabat yang hadir ketika Umar mengucapkan syahadatnya dihadapan Rasulullah SAW. Ini bisa dibaca dalam sirah atau bisa ditonton dalam film serial “Omar” yang beberapa tahun lalu sempat ditayangkan di televisi swasta Indonesia. Salah satu kalimat yang terucap dari Umar yang fenomenal “saya telah tertinggal dari saudara sekalian dalam mempelajari islam, maka saya akan mengejar ketertinggalan itu”.

Ya sebagaimana kita tahu bahwa Umar bukanlah sahabat yang pertama-tama masuk islam. Beliau dalam sirah disebutkan masuk islam setelah tiga tahun islam hadir. Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk memepelajari islam, ditengah sahabat-sahabat yang lain sudah berpacu mempelajari dan menjalankannya, Umar baru akan memulainya. Dan dikurun waktu tiga tahun sebelum masuk islam, Umar adalah salah satu tokoh yang paling keras menentang islam. Namun sejarah mencatat karena tekad Umar yang kuat untuk mengejar ketertinggalannya, ia yang pada akhirnya menjadi tokoh penting dalam islam dan menjadi salah satu ulama dikalangan sahabat yang fatwa-fatwanya banyak dijadikan referensi hingga sekarang. Beliau juga menjadi orang ketia yang paling berpengaruh dalam islam setelah Rasulullah SAW dan Abu Bakar As Siddiq ra.

Kunci dari kesuksesan umar adalah mau belajar, belajar dan terus belajar. Kisah umar ini dapatlah kita jadikan pelajaran yabg sangat berharga dalam hal menjadikan diri dari yang tertinggal menjadi yang terdepan atau minimal setara dengan yang lain. Belajarlah dengan banyak bertanya, membaca, berdiskusi dan sarana lainnya. Terutama sekali banyak-banyaklah membaca, sebab orang-orang yang berpengaruh dalam sejarah dunia ini adalah mereka yang banyak membaca. Sebutlah tokoh mana yang kurang membaca? Allahu’alam.

Posted in Uncategorized | Leave a comment