Tugas Kita Mendakwahi, Bukan Menghakimi

Tugas Kita Mendakwahi, Bukan Menghakimi

 
Asslamualaikum warahmatullahi wabaraatuh. Saudara(i)ku yg insya Allah selalu dirahmati Allah SWT. Aamiin. Malam ini saya coba berbagi dengan kita semua dan sekaligus untuk salaing meninstrosfeksi diri kita. Saya tidak bermaksud menggurui atau menunjukkan bahwa saya lebih baik dari kalian, bukan itu hanya sekedar ingin berbagi apa yang saya pahami dengan kalian, agar kalaupun saya salah tolong diluruskan.
 
Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.(QS. An-Nuur: 19) [2]
 
Sebenarnya kerisauan ini sudah lama saya alami, namun belakangan ini fenomena itu muncul kembali dipermukaan. Fenomena men-judge orang atau bahasa lainnya menghakimi orang lain yang berbuat kesalahan. Bahwa yang perlu kita pahami adalah orang berbuat salah itu karena bisa jadi beliau khilaf, kalaupun beliau berbuat salah itu dengan sengaja maka urusan itu adalah urusan beliau dengan Allah SWT ini ceritanya lain, yang ingin kita bahas kalau kesalahan itu bersifat khilaf tetapi kita kurang arif memposisikannya. Kita sebagai saudaranya tentu wajib berhudznudhan kepada beliau. Umar ra pernah berkata “berikan 70 alasan pembenaran untuk saudara kita yang berbuat kesalahan, kalaupun masih kurang cari yang ke 71nya” artinya apa? kita wajib selalu berhudznudhan selalu kepada saudara2 kita. Kemudian kalaupun ada saudara kita yang berbuat salah maka tugas kita bandingkan beliau dengan kita, mulai dari ibadahnya, bacaannya dll. Sehingga kita bisa melihat apakah kita lebih baik dari beliau??? selanjutnya coba tanyakan pada diri kita apakah kita masih sering melakukan maksiat ataukah kita masih punya peluang melakukan apa yang saudara kita lakukan??? Jawabannya ada pada diri kita, kalaulah kita masih punya peluang maka saudara kitapun juga wajar melakukan kesalahan itu karena kita manusia biasa.
Fenomena seringnya kita menghakimi orang lain yang berbuat suatu kesalahan bukanlah fenomena baru tapi memang sudah mengakar tampaknya, satu hal saudara(i)ku yang harus kita pahami bahwa kita ini DAI bukan HAKIM (Nahnu duat la qodi’) jadi kita tidak punya hak untuk menghakimi. Tugas kita adalah mendakwahi bukan menghakimi, kalaupun beliau salah maka seharusnya yang kita lakukan adalah menasehati bukan malah menghakimi dan kemudian ramai2 menjauhinya. Sebagai seorang manusia biasa sangat wajar apabila berbuat salah dan beliau punya hak pembelaan ataupun klarifikasi, maling saja yang sudah jelas2 maling ketangkap basah masih diberikan kesempatan untuk membela(pledoi). Justru yang seharusnya kita lakukan apabila ada isu2 tentang kesalahan saudara kita, kita tabayun dulu keorangnya biar ada kejelasan, kalaupun memang beliau sudah terbukti berbuat salah maka tadi kita dekati kemudian berikan nasehati bukan menjauhi, sekali lagi kita bukan Hakim tapi kita adalah DA’I.
Saya coba berikan satu contoh yang sering terjadi pada diri kita ketika mendengar saudara kita melakukan kesalahan salah satunya “Pacaran” atau berjalan dengan yg bukan mahramnya. Seringkali kita kayak kebakaran jenggot (untuk yang punya jenggot) atau kayak ada kejadian yang luar biasa menggemparkan, seharusnya yg kita lakukan itu mentabayun keorangnya apakah benar? kemudian mencari info yang valid kemudian memberitahukan kepada orang yang berhak saja atau yang punya otoritas saja tidak perlu itu menjadi bahan perbincangan di majelis2 syuro, dll. Agar permasalah itu tidak berlarut-larut jadi biarkan orang2 yang punya otoritas yang menyelesaikan. Bukankah Rasul sampai hanya memberi tau sahabat Khuzaifah Ibnu Yaman tentang siapa saja orang2 munafik dan para sahabat telah banyak mengajarkan kita untuk tetap menjaga sikap kita kepada saudara2 kita walaupun saudara kita melakukan kesalahan, kita harus  tetap seperti biasa bersikap kepada mereka dan jangan sekali-kali mencari-cari kesalahan karena Allah SWT saja menutup aib itu akankah lebih baik jikalau kita menutupi aib saudara kita sesuai dengan salah satu hadits Rasul SAW:
 “Barang siapa yang melepaskan kesusahan seorang muslim diantara kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya diantara kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang sedang salam kesulitan, niscaya Allah akan memberinya kemudahan dunia dan akhirat. Dan barang siapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah akan selalu menolong hamba selama ia mau menolong saudaranya.” (HR. Muslim).
 
Para qiyadah kita sudah mencontohkan hal demikian dgn baik contoh kasus ustadz YS yang dipecat dari jamaah karena suatu kesalahan fatal, nah para qiyadah kita tidak serta-merta mempublis kesalahan itu ke publik bahkan pengakuan ustadz qiyadah dakwah ditingkat provensi beliau tidak mengetahui kesalahan itu yang tahu hanya ustadz di Dewan Syariah Pusat. Sungguh yang saya tulis ini adalah instrosfeksi diri saya sendiri agar kedepannya menjadi lebih baik.Wallahu ‘alam bisshoaf
Wassalamualaikum warahmatullahi  wabarakatuh.
Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s