3 Karakter yang Hilang dari KITA

           Ini adalah hasil pengamatan dan analisa yang coba dihimpun oleh penulis, bukan bermaksud mencari kambing hitam namun hanya imenginginkan sebuah evaluasi dari diri kita terutama diri saya secara pribadi. Tiga karakter yang hilang itu adalah karajter yang dulu pernah menjadi keharusan dikalangan aktivis terlebih aktivis dakwah, namun dewasa ini kelihatannya nyaris hilang kalaupun tidak mau dikatakan benar-benar hilang meskipun harus diakui masih banyak juga aktivis yang masih melestarikan karakter-karakter ini. Kenapa hanya tiga karakter ini? Ini bukan berarti hanya tiga karakter ini yang mulai kabur tetapi sesungguhnya lebih dari itu namun tiga karakter inilah yang sangat fundamental terutama dalam konteks kehidupan berjama’ah. Tiga karakter ini sangat berpengaruh signifikan dalam kekokohan berjama’ah, kesolidan barisan dan tentu berefek pada kerja-kerja yang dilakukan.
 
           Pertama, Khusnudzhon (Prasangka baik) dan tabayun (Klarifikasi). Hari ini kita menyaksikan budaya dua hal ini sudah mulai perlahan lenyap, kita bisa menyaksikan bagaimana sikap kita ketika melihat saudara-saudari kita ketika melakukan “kesalahan” atau diluar kebiasaan para aktivis. Kemudian seringkali kita melupakan sebuah proses untuk mendapatkan informasi dan pembelaan dari saudara kita yang tertuduh tadi yaitu tabayun (klarifikasi), proses menyakan langsung kepada yang bersangkutan prihal apa yang sebenarnya versi beliau. Dua hal ini tidak boleh dipisahkan untuk menjaga ukhuwah dan kesolidan dalam berjama’ah. Contohnya, ketika ada seorang yang berboncengan atau jalan berdua maka akan muncul zhon-zhon bahkan mungkin gosip-gosip yang menyebar. Padahal semestinya sebagai seorang muslim terlebih sesama aktivis harus selalu berkhusnudzhon, mungkin saja yang dibonceng adalah saudarinya atau yang membonceng adalah paling darurat tukang ojek. Kalaupun memang ingin mengetahui hal yang sebenarnya maka proses tabayun bisa dilakukan agar kita tahu apa yang sebenarnya terjadi.
 
           Kedua, Kecintaan terhadap jama’ah dakwah ini. Ini terjadi karena kita lebih mencintai wajihah (organisasi) daripada jama’ah dan dakwah ini atau terlalu ashobiyah terhadap wajihah. Tidak ada yang salah dengan kecintaan terhadap wajihah (organisasi) yang menjadi tempat kita menempa diri, boleh-boleh saja itu terjadi sebab memang di situlah kita lebih banyak berinteraksi, lebih sering berkumpul, dan kerja-kerja lainnya sehingga ikatan emosional terhadap wajihah serta orang-orangnya lebih kental daripada dengan di luar itu. Namun ketika ashobiyah itu terlalu akut melebihi kecintaan kita terhadap jama’ah dakwah secara lebih luas maka ini yang tidak layak kita lestarikan. Sebab kita adalah kader dakwah dengan satu-kesatuan jama’ah bukan kader wajihah tertentu yang itu merupakan tempat kita menempa diri untuk menyongsong kerja yang lebih luas lagi, maka ketika jama’ah mengharuskan kita meninggalkan wajihah tersebut untuk mengemban amanah di tempat yang lain sudah seharusnya dengan lapang dada menerima itu. Sebab satu hal yang harus kita sama-sama pahami dan jadikan prinsip bahwa kita ini berdakwah karena dan untuk ALLAH, tujuan kita adalah Li ila kalimatillah (menegakkan kalimat ALLAH) bukan untuk wajihah jadi apapun jabatan kita dan dimanapun kita itu tidak menjadi penting yang paling penting adalah kontribusi kita.
 
           Ketiga, Ketsiqohan terhadap jama’ah. Dalam akhkanul bai’ah tsiqoh di tempat diposisi buncit atau yang kesepuluh, ini bukanlah suatu kebetulah sebab ketika sudah sampai pada fase ini maka pada hakikatnya sembilan bai’ah yang lain sudah terangkup dalam makna tsiqoh ini. Sebab ketika sudah tsiqoh maka kepahaman, ketaatan, pengorbanan dan lain-lainnya itu sudah selesai. Tsiqoh bukan berarti tidak boleh dikritisi atas setiap kebijakan, boleh-boleh saja mengkritisi, menanyakan atau mengklarifikasi agar kita paham namun bukan menolak melaksanakan ketika itu sudah diputuskan. Itu bukanlah karena kita punya karakter, keberanian atau merasa mampu dengan menolak kebijkan itu namun itulah pembangkangan yang akan menyebabkan perpecahan dan kekalahan pada akhirnya. Naudzubillah…semoga kita dijauhkan dari hal-hal yang dapat menyebabkan kekokohan jama’ah ini luntur.aamiin… Wallahu ‘alam bisshoaf…
Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s