Amanah Menjadi Penjaga Dan Penolongku

            Fenomena-fenomena penolakan dari para aktivis dakwah atas amanah semakin kian marak dan masif wabilkhusus aktivis-aktivis di kampus. Dengan berbagai rasionalisasi dan argumentasi walaupun memang secara zhahir kita harus mengakui rasionalisasi dan argumentasi itu layak jadi pembenaran. Berbagai alasan itu antara lain kesibukan dengan amanah yang lain, kesibukan kuliah, mau fokus mengerjakan skripsi, keinginan segera lulus dari kuliah dan macam-macam argumentasi lainnya. Nah saya disini tidak akan membahas seputar fenomena-fenomena itu, saya hanya ingin berbagi pandangan, rasa dan pengalaman atas amanah yang pernah dijalani ataupun yang sedang dijalani dari perspektif pertolongan-pertolongan Allah SWT yag pernah saya rasakan dan alami dengan tidak bermaksud riya’ atau mengumbar-umbar aib tapi lebih kepada keinginan agar kiranya dapat diambil hikmah-hikmah yang baik saja. Kalaupun ada hal-hal yang buruk tolong ditinggalkan saja dan saya minta keikhlasan pembaca untuk memaafkan diri ini dan tentu senantiasa memohon pengampunan dari Sang Maha Pengampum Allah SWT.
Tentang Menjadi Penjagaku
            Sebagai manusia biasa yang tak luput dari kekhilafan tentu diri ini pernah dan mungkin sering melakukan dosa baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Konsekuensi atas adzam dari diri yang mengingkan termasuk dalam kategori umat yang senantiasa menjaga diri dan senantiasa ingin menjadi hamba-Nya yang bertakwa maka tentulah godaan musuh utama seorang muslim semakin kuat, ibarat pepatah semakin tinggi pohon maka akan semakin kuat angin yang menerpa walaupun diri ini merasa belum ada apa-apanya dalam beribadah kepada Allah SWT. Godaan itulah yang senantiasa menghampiri diri ini mulai dari hal yang sepele sampai hal yang sudah termasuk fundamental dalam keislaman, misalnya ada keingingan untuk berbuat maksiat. Keinginan itu begitu kuat namun karena amanah yang sedang diemban di atas pundak maka lambat laun memudar dengan hati bergumam dan pikiran bertanya sendiri “masa iya saya yang ketua DPM berbuat demikian”. Walaupun kadang kala hal itu tak bisa terelakan dan diri ini tak berdaya menahannya untuk berbuat namun saya meyakini kalaulah bukan karena amanah ini tentu diri ini takkan lebih mampu menahan godaan-godaan itu. Contoh lain adalah godaan untuk meninggalkan majelis mingguan itu, sangat-sangat kuat sekali meskipun harus diakui karena banyak pengaruh faktor X yang kebanyakan terkadang bukan dari diri ini pribadi tapi lagi-lagi amanah yang sedang diemban inilah menjadi ‘penyelamat’ dengan hati bergumam dan pikiran bertanya sendiri “masa saya yang senantiasa menekankan kepada para junior di kampus tentang pentingnya Tarbiyah tapi diri yang menjadi senior dan menjadi bagian pengelola Dakwah Kampus malah Tarbiyahnya bermasalah?”. Akhirnya amanah inilah yang ‘menjadi’ penjagaku meskipun tetap saya menyakini bahwa itu semua tidak terlepas dari skenario Allah SWT namun saya juga berasumsi bahwa mungkin inilah cara Allah menjaga diri ini.
Tentang Menjadi Penolongku
            Kemudian mengenai pertolongan-pertolongan yang Allah SWT berikan kepada diri ini ketika diberikan amanah. Misalnya yang saya yakini inilah bentuk nyata yang tampak jelas pertolongan Allah, ketika menerima amanah sebagai ketua DPM ± 2 tahun yang lalu saya sangat berkeinginan untuk mempunyai kendaraan sepeda motor agar mobilitas sebagai ‘pejabat’ di kampus bisa lebih maksimal maka Allah SWT menjawab doa itu dengan memberikan rezeki yang sebenarnya tidak disangka-sangka akan ada jalannya, rezeki itu datang dan orang tua serta keluargapun bak gayung bersambut menyetujinya. (Allahu Akbar). Contoh yang lain lagi, sebagai anak kost yang lumayan jauh dari keluarga tentu itu menjadi hal yang sering ditemui para aktivis ketika kondisi keuangan yang sering kali menipis dan boleh dibilang sekarat sebelum waktunya (kiriman belum datang-pen). Lagi-lagi Allah SWT memberikan pertolongannya ada saja jalan untuk mendapatkan rezeki itu misalnya dapat pekerjaan sampingan menjadi relawan survey, menjadi fasilitator pengiriman uang dari orang-orang kampung halaman yang sedang merantau kemudian mam mengirimkan uangnya kepada kelurganya di kampung saya atau menjadi pemateri dalam agenda-agenda training walaupun tidak layak saya mengharapkan imbalan namun ketika diberikan maka diterima saja. Itulah yang saya yakini bahwa pertolongan Allah SWT datang dengan perantara amanah ini. Satu lagi mungkin layak saya begikan tentang proses pengerjaan skripsi saya meskipun belum selesai namun saya meyakini apa yang terjadi tidak terlepas dari bantuan Allah ‘karena’ amanah yang sedang dijalani, skripsi saya sudah memasuki bab pembahasan padahal menurut hitung-hitungan dosen awal-awal bimbingan paling tidak bulan maret saya bisa menyelesaikannya tapi kelau dikalkulasi dan dengan syarat saya rajin mengerjakannya insya ALLAH februari saya sidang skripsi jadi maret saya bisa bergelar S.Si (aamiin…minta doanya ya ^_^) atau kalau bila boleh membanding-bandingkan dengan temen-temen yang sudah duluan startnya saya lumayan cepat juga.
            Jadi tidak ada alasannya sebenranya untuk kita menolak amanah itu karena memang harus kita pahami ketika kita sudah menjeburkan diri ke dalam jalan ini maka pengorbanan adalah keniscayaan. Boleh-boleh saja kita berargumentasi bahwa dakwah itu tidak hanya di kampus memang tidak ada yang salah dengan itu, tapi marilah kita renungi perkataan Imam Hasan Al-Bana “Dakwah itu tentang cinta dan cinta menuntut pengorbanan darimu bahkan sampai sumsum tulang belakangmu”. Dan terakhir mari kita tadaburi surat cinta dari Allah SWT dalam surah Muhammad ayat 7 yang sering kali saya baca dalam banyak muqqadimah pertemuan- pertemuan dengan harapan menjadi doktrin dalam diri.
 
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7).
 
Semoga Allah tetap memberikan hidayah dan inayahnya kepada kita semua agar senantiasa istiqomah di jalan ini. Jalan yang insya ALLAH diridoi oleh Yang Maha Rahman dan Maha Rohim. Allahu’alam bishshoaf.
Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s