Berdakwah ala Siyasi (Politik)

 
 “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208)
 
           Ayat di atas bila kita tadaburi secara mendalam bahwa kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk memasuki islam secara (kaffah) menyeluruh, tidak sebagian saja. Artinya islam itu harus kita pahami bukan hanya berurusan dengan ritual peribadatan saja yang hanya berkutat dengan aktivitas sholat, puasa, zakat, naik haji, dan urusan ritual peribadatan yang lainnya, tapi islam itu mengatur seluruh sendi-sendi kehidupan mulai dari ekonomis, sosial, politik, negara, dll. Jadi sudah semestinya kita harus paham bahwa siyasah atau politik itu adalah bagian dari islam dan sebagai seorang muslim wajib berpoltik, tentu dengan makna siyasah (politik) yang seutuhnya. Karena islam itu sifatnya syumul tidak pemisahan antara agama dn politik, kalau ada pemisahan itu jadilah sekulerisasi terhadapap islam. Inilah yang menjadi ungkapan Syaikh Hasan Al Banna, “Sedikit sekali orang berbicara tentang politik dan Islam, kecuali ia memisahkan antara keduanya, diletakkan masing-masing secara independen. Menurut mereka keduanya tidak mungkin bersatu dan dipertemukan. Untuk itulah organisasi mereka disebut organisasi Islam non politik. Pertemuan mereka adalah pertemuan keagamaan yang tidak mengandung unsur politik, dan hal ini bisa dilihat dari Anggaran Dasar serta Anggaran Rumah Tangga mereka suatu ungkapan: Tidak mencampuri urusan politik”.
 
            Makna dari kata siyasah secara sederhana sebagai politik. Jika kita teliti dengan cermat, memang tidak dijumpai penggunaan kata siyasah dalam Al Qur’an maupun Hadits yang maknanya politik, namun ada banyak konteks yang menunjukkan ketepatan pemaknaan tersebut. Dalam terminologi Arab, secara umum dipahami bahwa kata siyasah berasal dari kata as saus yang berarti ar riasah (kepengurusan). Jika dikatakan saasa al amra berarti qaama bihi (menangani urusan). Syarat bahwa seseorang berpolitik dalam konteks ini adalah ia melakukan sesuatu yang membawa maslahat, bagi jamaah atau sekumpulan orang. Kalaupun kita persempit makna politik itu adalah berkaitan dengan kekuasaan, maka sebagaimana kita ketahui kekuasaan itu identik dengan tempat-tempat strategis dalam hal pengurusan umat, sebagai tempat pengambilan kebijakan yang banyak berkaitan dengan kepentingan hal layak ramai(umat).
 
           Karena politik tadi identik dengan kekuasan yang berkaitan dengan kepentingan umat, maka sudah selayaknya ada yang membawa, menyampaikan dan/atau membuat kebijakan yang bertujuan untuk kemaslahatan umat, itulah tujuan kita berpolitik. Karena ketika tidak ada orang-orang yang membawa dan menyampaikan kebaikan di tempat-tempat pengambil kebijakan lalu siapa lagi yang akan kita harapkan. Mari kita cermati pula hadits riwayat Muslim di bawah ini:
 
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran hendaklah mengubah dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, hendaklah mengubah dengan lisannya. Jika ia tidak mampu hendaklah ia mengubah dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman” (Riwayat Muslim).
            Para ulama mendefinisikan bahwa “mengubah dengan tanagnnya” itu melalui penguasa menggunakan kekuasaan, kemudian “mengubah dengan lisannya” melalui mubalik dengan ceramah, dll, yang terkahir “mengubah dengan hatinya” melalui doa atau cukup dengan mengkarinya saja. Dan sebagaimana telah sama-sama diketahui bahwa cara yang efektif untuk mencegah kemungkaran adalah dengan terlibat dalam pengambilan kebijakan atau kekuasaan. Apabila kekuasaan berada di tangan orang-orang shalih, atau didukung oleh orang-orang shalih, maka memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menolak kemungkaran dalam kehidupan masyarakat luas. Sebaliknya, jika kekuasaan di tangan orang zhalim, maka akan bisa digunakan untuk mengembangkan kemungkaran dan kezhaliman secara luas.
Dua hal di atas yang secara global dapat diklasifikasikan sebagai Dakwah ala Siyasi (politik) yaitu; menyampaikan atau membawa kebaikan di pusat pengambil kebijakan agar kebaikan itu dapat menjadi bagian dari kebijakan itu dan mencegah kemungkaran dengan kekuasaan yang tentu terbukti lebih efektif. Wallahu ‘alam.
                                                                                               
                                                                                                “Cinta, Kerja dan Harmoni”
 

                                                                                                 Syahdami

Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s