CATATAN PANJANGKU

“Tak Ada Kata Yang Dapat Mewakili Perasaanku”
 
           Hari itu adalah sejarah buatku, sejarah kehidupan yang akan selalu kuingat dan kukenang sebagai sebuah pelajaran, pengingat dan penguat bagi perjalanan hidupku. Hari itu senin, 27 Mei 2013 aku berangkat kembali ke daerah perjuanganku kota tanpa lampu merah Indralaya untuk melanjutkan aktivitas study yang masih menjadi amanahku. Berankatlah diriku dan adik perempuanku yang juga akan melanjutkan aktivitas studynya di Palembang. Kami berangkat dengan mengendarai motor kesayanganku sekitar pukul 10:30wib, perjalanan kami berjalan lancar sampai durasi 2 jam berikutnya hingga sampailah kami di desa Sugih Waras namanya tepat setelah desa Tangjung Lubuk Kabupaten OKI SUMSEL. Di jalanan yang sepi daerah perkebunan itu aku dikejutkan dengan mobil truk di depan kami yang menurutku secara mendadak berbelok ke kanan jalan dan aku baru melihat tanda lampu sen mobil itu setelah dekat maka akupun memberikan kode dengan klakson motorku perkiraanku tanpak jelas bahwa sang sopir truk itu memahami kode yang kuberikan dengan ancang-ancag memberikan kami ruang untuk terus melaju, tapi ternyata prakiraanku salah sang sopir truk terus melaju berbelok ke kanan jalan yang mebuat aku harus membanting setir motor ke kanan hingga jatuh di samping jalan. Kontur tanah samping jalan yang berbentuk bongkahan-bongkahan bekas timbunan dan rumput di samping jalan yang tinggi membuat laju motor terhenti dan akupun tak tau apa yang terjadi, aku hanya ingat bahwa penglihatanku gelap serta aku merasakan tubuhku ditimpa sesuatu dan aku mengucapkan takbir dua kali karena itu yang bisa aku lakukan. Kemudian terdengar suara adikku yang sedikit samar memanggil namaku dan menggangkat sesuatu yang menimpa yang ternyata adalah motorku sendiri. Terlintas dibenakku bahwa mungkin kakiku patah, hingga akhirnya aku bisa melihat dengan terang kembali dan kemudian datanglah orang-orang yang membantu kami. Kemudian akupun dibawa ke Puskesmas setempat yang tidak berjauhan jaraknya dengan lokasi kejadian, namun sayang Puskesmas yang seharusnya tempat masyarakat berobat sudah tutup di jam 12:00wib tidak ada satupun pegawainya yang ada hingga akhirnya akupun di bawa ke seorang Bidan yang juga tidak berjauhan dengan Puskesmas itu.
            Aku pada kasap mata tidaklah terluka parah karena tidak ada lecet-lecet yang aku alami “hanya” rasa sakit di perutku yang tak tertahan. Kemudian setelah ada pertolongan dari sang Bidan akupun hanya merasa lemas maklum hari itu aku sedang berpuasa jadi aku menganggapnya wajar walau akhirnya berbuka di TKP. Tak lama kemudian datang kelaurga yang tinggal dekat dengan daerah itu beliau adalah sepupu kami dan akhirnya rombongan keluarga dari rumah nan jauh dari desa kami tiba juga setelah dihubungi adikku ketika di TKP. Aku sempat pingsan dua kali di lokasi klinik itu ketika di kamar mandi mau mengambil wudhu dan ketika akan neik ke atas motor yang membuat kakakku hampir menangis dan mungkin menangis karena sedih melihatku. Dan akhirnya akupun diputuskan untuk dibawa pulang menggunakan mobil, namun karena susah mencari mobil yang akan menuju ke rumah maka kamipun harus menunggu sepupu juga yang merupakan kepala desa kami secara kebetulan baru akan pulang ke desa kami dari palembang dan akupun serta rombongan menuju rumah sepupu kami yang tinggal dekat dengan daerah TKP tadi sambil menunggu mobil datang.
            Singkat cerita perjalanan pulangpun terlaksana setelah menunggu sekitar 1 jam dan setelah aku sempat mendapat pengobatan tradissional urut dari warga setempat tempat kami menuggu. Di tengah perjalanan banyak sekali yang menghubungi HP ku namun aku tak mampu membalasnya atau menjawab telophonan mereka sihingga adikku yang bertugas menjadi jubir. Mungkin karena memang setelah kejadia aku sempat menghubungi seoran fatner di tempata aku diamanahkan sekarang bahwa aku tidak bisa ikut agenda pertemuan sore harinya, karena sebelumnya memang sudah ada janji untuk itu sehingga info tentang aku menyebar luas. Yang paling mengejutkanku bahwa ada kabar aku diinfokan telah syahid (mudah-mudahan nanti. Aamiin), aku hanya tersenyum mendengar kabar itu (setelah beberapa hari aku melihat twitter ternyata banya sekali mention di akunku).
            Setibanya di rumah setelah menempuh perjalan sekitar 2,5 jam, nampak rumah seperti ada hajatan cukup banyak keluarga dan tetangga yang sudah hadir hanya sekedar untuk tau kondisiku hingga membuaku terharu ternyata begitu banyak yang perhatian denganku. Wabil khusus buat ibuku tercinta Siti Asiah namamu sindah dan setangguh sifatmu serta keluarga besarku ayuk-ayukku yang setia menungguiku di RS & Klinik, kakakku yang cuma satu-satunya yang selalu bolak-balik mengurusiku dan adikku terima kasih banyak atas perhatian kalian semua, maafkan aku yang telah membuat air mata kalian menetes gara-gara aku yang lalai, tidak ada kata yang mampu mewakili kebaikan kalian mungkin aku takkan mampu mebalasnya hanya ALLAH SWT lah yang membalasnya, aku doakan kalian diampuni dosa-dosanya dan selalu dirahmati oleh-Nya. Aamiin.
            Balik lagi ke kondisiku malam itu aku hampir tak bisa tidur menahan sakit di perut yang serba salah posisi karena rasa sakitnya hingga aku harus tidur sambil setengah duduk, beberapa kali rasa nyeri itu membangunkanku. Keesokan harinya aku diajak untuk kembali berobat ke pengobatan terdisional urut karena banyak yang menyangka kalau sakit di perutku itu mungkin hanya keseleo biasa, tapi tak ada perubahan signifikan setelah pulang lagi ke rumah dan malamnyapun tak jauh berbeda. Dihari ketiga aku dibawa ke klinik Bidan di desa tetangga untuk diperiksa dan akhirnya diputuskan untuk dirawat, untuk pertama kalinya dalam hidupku merasakan jarum infus ternyata begitu rasanya (^_^). Setelah siang hari sang Bidan datang untuk memeriksa beliau mengisyaratkan untuk dirawat selama 2 hari, tetapi setelah dua hari tidak ada perubahan yang signifikan sehingga dihari keempat akupun pulang ke rumah. Setelah sholat jum’at rencana aku akan dibawa ke dokter dpesialis di Belitang OKUT untuk dironsen dan USG.  Tepat pukul. 14:30 wib kamipun berangkat dengan mobil serta 5 orang yang menemaniku. Tetapi sesampainya di kediaman dokter tersebut ternyata sang dokter sedang berada di Palembang, kemudian diputuskan aku harus diperiksa ke RS Charitas cabang Belitang namun sayang fasilitas USG tidak tersedia dan akhirnya kami mendatangi dokter spesialis lainnya, pokoknya hari itu keliling sambil menahan perut sakit yang tidak tahan guncangan. Setelah diperiksa kemudian ronsen, dicek darah dan USG dokter mengisyaratkan untuk dirawat di kliniknya setelah sempat dipasang infus namun keluarga menolak dan bernegosisasi untuk dirawat di RSUD OKUT. Setibanya di RSUD sudah malam sekitar waktu isya dokter yang memeriksaku kemudian beliau meminta keluarga yang menungguiku untuk meninggalkan kami berdua serta beliau menanyaiku berkaiatan hasil diagnosa dokter spesialis tempat kami diperiksa sebelumnya, beliau bertanya apakah saya pemakai narkoba? pernah maaf berhubungan dengan wanita? karena penyakitku hasil diagnosa itu kebanyakan cara penularannya lewat itu, aku hanya tersenyum karena tidak menyangka akan ditanyain itu dan hanya menggeleng-gelengkan kepala saja dan aku juga mendapat kabar kalau aku butuh darah A untuk menaikan Hb darahku yang hanya 5,5 dari minimum 10 jadi aku  coba menghubungi saudaraku di kampus serta di palembang yang merupakan temenku satu kelompok belajar untuk meminta bantuan agar dapat mencarikan donor darah A.
             Malam pertama di RSUD adalah malam terberat yang saya alami, bolehlah kalau dibilang malam paling kritis (walau agak lebay sih. hehe) karena sangat susah tidur akibat rasa sakit di perutku. Serba salah baring salah duduk tidak tahan hingga membuat malam itu terasa malam yang panjang. Keesokan harinya setelah mendapat perawatan barulah rasa akan sehat itu mulai kurasakan setelah sebelumnya sempat muncul rasa pesimis dalam hatiku, keluarga besar dari kamppung halaman berdatangan entahlah berapa orang yang jelas penuh itu kamar dan membuat “temen” sesama pasien ribut dan ada satu adek tingkat beda fakultas denganku yang kebetulan tinggal di sekitar daerah RSUD datang bersama satu keluarganya datang menjenguk. Hari itu aku mendapat transfusi darah dari kakak iparku dari kakak perempuanku atau panggilan kami ayuk yang kelima setelah mencari banyak pendonor dari keluarga yang ternyata banyak yang tidak cocok darahnya atau tidak cukup syaratnya. Rasanya luar biasa ya? Langsung keringatan dibuatnya, itulah kali pertama ditransfusi darah pengalaman berharga.
            Dimalam yang kedua di RSUD kondisi sudah mulai membaik, tidurpun sudah agak nyenyak karena sakit diperut sudah mulai mendingan dari sebelumnya jadi agak tenang suasana di kamar RSUD malam itu setelh malam sebelumnya yang membuat penghuni kamar hampir semuanya terjaga olehku (maafkanku kakak-kakakku dan ayuk-ayukku(kaka perempuan), semoga ALLAH mengampuni dosa kalian dan ALLAH membalas semua yang kalian berikan kepadaku. aamiin). Tak lupa malam itu aku dapat kabar kalau saudara-saudaraku dari kampus akan datang ke RSUD yang dibagi dua kloter, hati gembira mendengarnya ya bisa melihat teman-teman datang dan peduli denganku. Keesokan harinya sekitar pukul sepuluhan pagi datang saudara-saudaraku dari kampus yang didominasi oleh pengurus NADWAH Unsri beserta ketua umumnya yang sekaligus guide perjalanan saudara-saudaraku ini karena sang ketum juga rumah orangtuanya di daerah kami, mantan fatner di Pemerintahan kampus tahun lalu dan kakak tingkat. Selain menjenguk tujuan mereka ada yang akan menjadi pendonor darah, namun karena hasil uji lab yang belum keluar maka niat baik teman-teman ini tidak terlaksana (mudah-mudahan niat kalian sudah dicatat oleh malaikat saudaraku. aamiin). Pagi itu juga aku dapat kabar bahwa saudara-saudaraku sefakultas akan datang esok hari. Sore harinya dapat kabar kalau saudara-saudaraku dari orgnisasi yang membesarkanku (hehe) DPM Unsri periode sekarang juga telah berangkat dari kampus. Tepat pukul delapan kurang saudara-saudaraku dari DPM Unsri tiba di RSUD, setelah sholat isya salah satu dari mereka ada yang menjadi donor darah. Ada kejadian yang agak “lucu” ketika pendonor darah sebut saja Echi (Eman Chibi) yang mengalami pingsan setelah selesai donor darah. Untuk kali kedua transfusi darahpun aku alami kali ini darah saudaraku Echi panggilan sayang kami dulu (hehe), karena kondisi sudah malam jadi mereka tidak diperbolehkan pulang ke kampus untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan sehigga saudara-saudaraku ini harus menginap di RSUD. Keesokan harinya pagi-pagi sekali teman-teman DPM Unsri pulang ke kampus, siang harinya giliran saudara-saudaraku dari FMIPA yang hari mereka berempatbelas orang tiba di RSUD dan salah satunya menjadi pendonor darah. Jadi keseluruhan darah yang masuk ke dalam tubuhku ada empat kantong karena ditambah pendonor terakhir dihari keempat di RSUD giliran ayukku yang pertama mendonor.

            Setelah lima hari “menginap” di RSUD akhirnya tepat sehari sebelum Pemilihan Umum Kepala Daerah SUMSEL saya dapat kabar baik bahwa hari itu saya bisa langsung pulang siang harinya. Alhamdulillah akhirnya keluar juga dari hotel itu, saya berharap tidak kembali lagi ke sini untuk hal yang sama. Aamiin. Terakhir saya ingin mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudaraku yang sudah banyak membantu saya tidak ada kata yang bisa mewakili rasa terima kasihku hanya bisa berdoa semoga ALLAH SWT membalasnya. Aamiin.

Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s