Marah Karna Allah, Benarkah?

           Tulisan ini hanya ingin memberikan tanggapan atas pernyataan dari seorang trainer beberapa hari yang lalu ketika saya mengikuti sebuah agenda training. Sang trainer berkata bahwa “salah satu syarat mencari pasangan yang baik adalah bukan orang yang suka pemarah, karena marah adalah menuruti hawa nafsu dan marah adalah perbuatan dosa” kira-kira seperti itulah pernyataan beliau secara substansinya walaupun mungkin redaksinya tidak sama persis. Selintas pernyataan itu terdengar bagus namun menurut saya perlu dikritisi, sebab beliau memutlakkan hukum tidak boleh marah dalam kondisi apapun apalagi beliau melandaskan dengan tidak adanya dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang membolehkan marah itu. Memang secara eksplisit tidak ada satu ayat yang membolehkan, kemudian dalam hadits juga demikian. Namun kita bisa membaca sirah nabawiyah dan sahabat bahwa marah itu ada dalam dinamika kehidupan Rasulallah SAW dan para sahabat. Dan jangan lupa hadits itu berasal bukan hanya dari verbal atau lisan Rasulallah SAW saja namun dari amalan atau perbuatan dan dari diamnya beliau SAW.
 
            Marah adalah fitrah manusia ketika sedang menghadapi kondisi yang tidak sesuai dengan ekspektasi dirinya. Saya meyakini bahwa islam tidak pernah menafikan fitrah manusia itu yang ada adalah islam memposisikan fitrah sesuai koridor yang memang ALLAH SWT atur, hukum haram menjadi halal dan sebaliknya halal menjadi halal berlaku disegala sendi-sendi kehidupan. Contoh fitrah manusia menyukai lawan jenis dan seksual yang ALLAH muliakan dengan menikah, dari yang haram menjadi halal. Bahkan dalam tataran yang lebih ekstrem hal-hal yang haram bisa menjadi halal ketika dihadapkan pada kondisi tertentu semisal daging babi yang sudah jelas dalil keharamannya namun ketika kondisi darurat tidak ada lagi makanan yang bisa dimakan dan akan menyebabkan kematian maka daging babi menjadi halal. Apatah lagi marah yang merupakan fitrah manusia pasti ada batas toleransi atau hukum haram menjadi halal sangatlah berlaku. Marilah kita simak kisah dalam sirah Nabawiyah dan Sahabat terkait marah ini, sebab penulis sering kali mendengar dan membaca beberapa hadits Rasulallah SAW yang menunjukkan beliau sedang marah.
 
Kisah Pertama.
            Suatu hari pada giliran Aisyah ra, Rasulallah SW berbaring dengan membuka baju luarnya . Aisyah ra tampaknya sudah tidur. Tiba-tiba Rasulallah SAW bangan dan mengenakan baju luarnya kembali. Kemudian beliau keluar pelan-pelan. Melihat itu Aisyah ra yang ternyata belum tidur mengikuti Rasulallah SAW dari belakang, ia memakai penutup kepala dan mengarungkan kain sarung dengan menyamar membuntuti Rasulallah SAW. Ternyata Rasul SAW pergi ke pemakaman Baqi’ dan beliau berdiri lama, mengangkat tangannya tiga kali, kemudian membalikkan tubuhnya. Melihat itu Aisyah ra kangsung segera kembali agar tidak ketahuan. Rasulallah SAW berusaha mengejarnya, Aisyah ra mempercepat jalannya dan Rasulallah SAW setengah berlari Aisyah ra pun berlari hingga akhirnya Aisyah ra tiba duluan di rumahnya dan pura-pura tidur.
             Rasulallah SAW bertanya ketika Beliau tiba di rumah: “ada apa denganmu wahai Aisy mengapa nafasmu tersenggal-senggal?”  Aisyah ra menjawab dengan setenang mungkin “tidak ada apa wahai Rasul” kemudian Rasulallah SAW berkata lagi “Engkau akan memberi tahuku atau Allah yang akan memberi tahu?” Aisyah ra menjawab “Wahai Rasulallah, biarlah ayah dan ibuku sebagai tembusannya…” dan Aisyah ra bercerita atas apa yang dilakukannya.
“Jadi bayangan hitam itu adalah dirimu?” tanya Rasulallah SAW memastikan “Benar” jawah Aisyah ra. “Apakah engkau mengira Allah dan Rasul-Nya akan mendzolimimu?” nada suara Rasulallah SAW terdengar marah, “Sesungguhnya. Saat engakau melihatku melakukan seua itu, jibril datang kepadaku. Ia memanggilku dengan suara yanag engkau tidak dapat mendengarnya, lalu aku menjawab tanpa terdengar olehmu. Jibril tidak mungkin masuk, karena engkau telah siap-siap tidur. Saat itu aku mengira engkau telah tidur lelap. Aku khawatir mengganggu tidurmu dan mengagetkanmu. Jibril berkata kepadaku ‘Sesungguhnya Tuhanmu menyuruh engkau datang ke pekuburan Baqi’ untuk memohonkan ampunan bagi orang-orang yang telah dikubur di sana’”. “ Lantas apa yang harus aku katakan jika dating ke kuburan?” Aisyah ra menimpali mengalihkan amarah Rasulallah SAW degan halus.
 
Kisah Kedua.
            Tatkala Rasulallah SAW telah wafat dan kepemimpinan umat islam diamanhkan pada khalifah Abu Bakar ra terjadi banyak pemurtadan dan muncul nabi-nabi palsu, maka Abu Bakar ra memutuskan untuk memerangi para murtad yang yidak mau membayar zakat dan menumpas nabi-nabi palsu itu. Namun banyak sahabat yang menolak putusan Abu Bakar ra termasuk Umar bin Khatab ra yang kemudian menghadap Abu Bakar ra dan memprotes keputusan Kalifah untuk melakukan penumpasan itu.
Abu Bakar ra kemudian marah kepada Umar bin Khatab ra sambil memegang jenggot Umar bin Khatab ra, sang khalifah berkata tegas “Apakah keberanianmu telah hilang wahai Umar? Jikalau tidak ada yang bersedia berngkat melakukan penumpasan maka aku sendirian yang akan berangkat”. Akhirnya berangkatlah pasukan yang dikirim untuk menumpas para murtad yang tidak mau membayar zakat dan nabi-nabi palsu yang sudah tercatat dalam sejarah.
 
            Dari dua kisah di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa marah pernah menjadi dinamika kehidupan Rasulallah SAW dan para sahabat serta banyak kisah lain dari Rasulallah SAW dan para sahabat yang menguatkan bahwa mereka pernah marah kepada istri dan orang disikitar mereka. Bahwa mereka pernah marah untuk sebuah kebenaran, mereka marah untuk meluruskan kesalahan dan mereka marah karena ALLAH. Artinya marah boleh-boleh saja selama untuk kebaikan bukan untuk melampiaskan hawa nafsu ini yang tidak boleh. Kehidupan yang penuh dengan dinamika ini pastilah kita akan menemukan fase saat-saat yang “mengharuskan” kita marah apalagi dalam kehidupan rumah tangga karena konteks yang dibahas oleh sang trainer adalah kehidupan rumah tangga.
Mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat untuk pembaca (aamii). Jikalau dari yang saya sampaikan di atas ada yang salah mohon dikoresksi dan jikalau ada yang menyimpang mohon diluruskan karena penulis baru belajar. Wallahu ‘alam Bisshawaf.
Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s