Mimpi Sang Ayah

Beberapa minggu yang lalu tepatnya awal bulan februari 2014 kemaren saya bermimpi bertemu dengan almarhum ayah. Yah bertemu dengan beliau dalam mimpi yang tampak agak nyata karena waktu itu aku antara tidur dan akan terbangun. Dalam mimpi itu aku melihat jelas ayahku yang bernama lengkap Habibur tampak punya postur tubuh yang lebih besar dari yang ku tahu, sehingga ketika aku memeluknya dengan penuh tangisan beliau haru membungkuk padahal tinggi beliau semasa hidup tidak jauh berbeda dengan tinggiku (168 cm-pen). Sekilas cerita ayahku telah pergi meninggalkan kami untuk selamanya dari dunia fana ini sudah hampir delapan tahun, beliau meninggal tepannya di tahun 2006 bulan juni tanggal 15 malam setelah sempat dirawat di RSUD OKU Timur di Belitang selama beberapa hari, waktu itu aku baru menginjak umur 17 tahun dan baru duduk di kelas 2 SMA. Beliau dirawat di RS karena penyakit yang sudah lama beliau derita yaitu asum urat akut dan kompleksitas penyakit lainnya, penyakit itu sudah beliau derita lebih dari sepuluh tahun.

Back to mimpi tadi sempat ada percakapan antara aku dan beliau namun yang kuingat hanya ucapan belia “aku menyayangimu nak”. Kemudian aku terbangun, kulihat jam ternyata baru pukul 02:00 dini hari. Aku coba untuk tidur namun sepertinya mataku tidak mampu terpejam karena masih terbayang dengan muka ayah dan aku masih merasakan tangisan dalam mimpi itu. Akhirnya aku putuskan untuk sholat tahujjud dan mendoakan beliau di sana. Sebenarnya aku bukanlah anak yang sering ‘memimpikan’ beliau agak sedikit berbeda dengan ayuk (kakak perempuan-pen) tertuaku yang lebih sering bermimpi tentang ayah, aku termasuk anak beliau yang sangat jarang bermimpi tentang beliau. Entahlah…

Sosok alrmarhum ayahku adalah orang yang punya tekad yang kuat dan punya sikap yang keras, mungkin gen itulah yang menular kepadaku. Beliau terlahir dari kelurga yang kurang beruntung, semasa kecilnya sudah ditinggal pergi sang ayahnya (kakekku-pen) hingga ibunya (nenekku-pen) menikah lagi. Karena keterbatasan itulah yang membuat beliau tidak mampu melanjutkan sekolahnya hingga beliau Sekolah Rakyat (SR-setingkat SD sekarang) tidak tamat. Namun ditengah keterbatasan itu ia mampu mengangkat harga diri keluarganya, beliau bahkan menjadi orang yang cukup diperhitungkan dari segi keilmuan agama dengan menjadi guru ngaji di desaku, beliau pernah ditunjuk selama beberapa tahun menjadi ketua RT dan dari segi ekonomi beliau jg cukup punya tabungan tanah yang sekarang kami nikmati. Aku menuliskan prestasi beliau bukan untuk menyombongkan diri sebagai anaknya tidak sama sekali, hanya ingin mencoba membagi inspirasi dan terutama inspirasi buat diriku sendiri.

Nasehat yang selalu beliau sampaikan padaku adalah agar aku mau melanjutkan studiku sampai meraih sarjana, keinginan beliau sebenarnya tidak hanya kepadaku namun sudah sejak ayuk tertuaku dan kiyaiku (kakak laki-laki) yang bahkan sudah sempat mengecap dunia kampus ketika ditahun 1997 beliau mencoba peruntungan kuliah di Jogjakarta namun ketika krisis moneter melanda Indonesia di tahun 1998 membuat kiyaiku harus merelakan kuliahnya putus dijalan karena ekonomi kelurga yang terkena dampak krisis itu ditambah waktu itu ayah sudah mulai sakit-sakitan juga. Hingga ‘satu-satu’ harapan beliau ada padaku walaupun sebenarnya masih ada adikku yang sekarang juga masih kuliah di Kota Palembang. Entahlah kenapa adikku ‘tidak terlalu diharapkan’? mungkin karena adikku adalah perempuan.

Keinginan beliau yang kuat itu berada di puncaknya ketika beliau sudah mendekati waktu wafatnya, beliau berwasiat kepada Ibuku dan keluargaku yang lain agar mereka mau meyekolahkanku sampai sarjana bagaimanapun caranya. Dan hari ini akupun secara defacto resmi menjadi sarjana dengan telah selesainya sidang sarjana pagi tadi dan kabar dari pihak jurusanku bahwa aku sudah dinyatakn lulus menjadi sarjana meskipun nilai akhir belum disosialisasikan kepadaku. Inilah momen mimpi Ayahku sudah terwujud dan aku sampaikan terima kasih kepada Ayahku serta keluargaku atas apa yang sudah diberikan, kini ‘hanya’ doaku yang mampu aku berikan kepada ayah. Semoga ayah ditempatkan di sisi-Nya yang layak, selamat jalan ayah. Aku tulisan tulisan ini dengan tangisan haru sama halnya ketika aku menuliskan halaman persembahan di skripsi waktu itu, ingi rasanya menangis sejadi-jadinya hanya saja di kamar kosanku ada teman jadi tidak enak. (Syahdami, S.Si). 🙂

Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s