Hentikanlah Perdebatan Ini, Kawan!

Tampaknya mendekati hari penentuan yang tinggal menghitung jam ini perdebatan yang tidak produktif semakin membahana. Perdebatan antara saudara-saudara kita yang katanya mendukung demokrasi dan saudara-saudara kita yang katanya juga menolak demokrasi, termasuk saya juga sering kali terlibat dalam perdebatan ini terutama di media sosial. Kelompok pertama berargumentasi memanfaatkan demokrasi wabilkhusus pemilu untuk memengkan dakwah Islam dengan cara merebut kekuasaan, kemudian kelompok kedua beranggapan bahwa seluruh produk demokrasi tak terkecuali pemilu tidak bisa dimanfaatkan untuk kepentingan Islam karena itu merupakan sistem hasil kaum di luar Islam, jadi ‘tak ada’ satupun kebiakan si situ sebab lagi-lagi itu bukanlah sistem yang ada dalam Islam dan bahwa ketika kita ikut serta dalam pesta demokrasi (pemilu) berarti kita mengikuti sistem kufur. Kelompok pertama ini dominan biasanya diwakili oleh saudara-saudara kita dari PKS dan saudara kita yang punya pandangan sama dengan PKS, sedangkan kelompok kedua biasanya diwakili saudara-saudara kita dari HTI dan juga yang saudara kita yang punya pandangan sama dengan ini.

Perdebatan ini sesungguhnya sudahterjadi dari semenjak zaman dulu hingga lahirlah banyak karya para ulama yang tertuang dalam buku-buku, tulisan-tulisan dan diskursus diberbagai forum. Ada perbedaan pandangan dalam menyikapi akan demokrasi khusus pemilu ini di kalangan ulama. Banyak ulama yang membolehkan ikut serta dalam pelimu dengan catatan bahwa itu dimanfaatkan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan umat bisa dibaca salah satunya di tulisan ini tentang Fatwa-fatwa Para Ulama Tentang Kebolehan Pemilu (http://www.dakwatuna.com/2014/02/12/46193/fatwa-fatwa-para-ulama-tentang-kebolehan-pemilu/#axzz2xc4Py9iY), tentu tidak sedikit juga yang mengharamkan secara mutlak keikut sertaan umat Islam dalam demokrasi khusus pemilu itu. Kenapa ada perbedaan? Menurut saya karena memang di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak ada satupun dalil yang menyatakan bahwa demokrasi atau ikut pemilu itu tidak boleh atau haram. Dalil-dalil yang ada hanya bersifat umum, tidak satupun yang secara tekstual menyataka atau menuliskan demokrasi itu, maka sebagaimana jamak kita ketahui landasan umat Islam tentu yang pertama adalah Al-Qur’an, kemudian ketika tidak ada penjelasan yang detil akan hal itu kita merujuk ke As-Sunnah dan yang terakhir adalah ijma’ para ulama begitulah yang dicontohkan para sahabat Rasulallah SAW dan para salafus sholih. Jadi semestinya hal ini tidak menjadi perdebatan yang ‘melelahkan’ bagi kita semua. Sebab ini bicara ranah ijma’ yang ada perdebatan di situ dan kita boleh mengikuti mana saja menurut kita lebih layak dijadikan rujukan berdasarkan dalil-dalil yang lebih kuat.

Akan lebih produktif ketika perdebatan yang selama ini terjadi untuk kita hentikan saja, saudaraku. Sebab perdebatan ini tidak akan berujung pada konklusi mencari kebenaran karena yang ada adalah keegoisan pribadi dan kelompoknya. Perdebatan ini hanya akan membuat tali ukhuwah islamiyah yang menjadi senjata andalan para pendahulu kita dalam memenangkan setiap pertempuran melawan musuh-musuh islam, bukankah ukhuwah islamiyah adalah kewajiban kita kaum muslimin? Perdebatan ini juga sedikit banyak menggores hati-hati setiap individu atau kelompok yang terlibat di dalamnya dan alangkah lebih baik serta lebih produktif untuk kita kaum muslimin yang katanya memperjuangkan islam ini saling mendukung, menguatkan dan mendoakan satu sama lain. Ketika yang dilakukan suadara kita itu dalam kerangka kebaikan baik dirinya dan umat ini, kenapa kita tidak mendukungnya? Tidak memilih di Pemilu nanti? Atau minimal kalaupun mendoakannya, kalaupun masih enggan mendoakan minimal sekali janganlah kita membuat ‘kegaduhan’ dengan ajakan golput kita.

Akhirnya saya secara pribadi mengajak kita semua terutama saudaraku yang lagi berjihad siyasi di pemilu sebentar lagi ini, marilah kita hentikan perdebatan yang sama sekali tidak produktif ini. Biarkanlah saudara kita itu (yang mengkapanyekan golput) untuk larut dalamnya, kita doakan saja agar mereka suatu saat bisa menjadi pendukung kita dan kita doakan kebaikan untuk mereka. Sebab banyak pekerjaan lain yang mesti kita selesaikan, ada orang lain yang mungkin bisa menyambut ajakan kita dengan lebih hangat. Saya meyakini bahwa jihad ini adalah milik Allah dan Allah yang akan memenangkannya walaupu tanpa dukungan serta suara mereka. Sekarang saya sudah memulainya dari hari ini saya akan senantiasa menghindari perdebatan masalah ini sebisa mungkin, kalaupun mau menjawab pertanyaan jawablah seadanya saja. Allah Sang Pemilik Hidayah….

Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s