Antara Idealis dan Netralis

Kata “idealisme’ sudah jamak kita dengar bahkan mungkin kita sering menjadi pelafadznya (pengucap-pen), apalagi di kalangan mahasiswa wabilkhusus aktivis mahasiswa kata ini menjadi ‘primadona’ dan sering disandingkan dengan kata ‘mahasiswa’ itu sendiri. Tidak sedikit juga yang mengidentikkan kata idealisme dengan kalangan mahasiswa, bahwa yang biasanya punya idealisme itu adalah mahasiswa sehingga ini yang menjadi ‘senjata’ andalan atau ‘jualan’ khas mahasiswa ketika berinteraksi dengan kalangan luar kampus khususnya para pejabat. Jadi idelalisme ini pokoknya mahasiswa banget deh, walaupun di luar mahasiswa sebenarnya juga ada aktivis LSM, ormas dan lain-lain yang sebenarnya juga orang-orang punya idealisme.

            Sebelum masuk ke pokok bahasan ada baiknya kita definisikan dulu makna kata idealisme ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) idealisme artinya sebagai berikut: 1. Aliran ilmu filsafat yg menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami; 2. Hhidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yg dianggap sempurna; 3. Aliran yang mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan meskipun tidak sesuai dengan kenyataan. Sedangkan idealis itu sendiri adalah orangnya atau orang yang menganut paham idealisme. Kalau bisa kita simpulkan bahwa idealisme adalah sikap yang mementingkan kesempurnaan, berjalan sesuai aturan dan norma baik aturan agama, negara dsb. Pada intinya bahwa idealisme itu berjalan sesuai dengan jalan kebaikan.

            Kemudian kita definisikan juga makna kata netral berkaitan dengan judul tulisan ini. Masih menurut KBBI netrar artinya: 1. Tidak berpihak (tidak ikut atau tidak membantu salah satu pihak); 2. Tidak berwarna (dapat dipakai untuk segala warna); 3. Tidak dulu kelompok jantan atau betina; 4. Menunjukkan sifat yang secara kimia tidak asam dan tidak basa; 5. Bebas; tidak terikat (oleh pekerjaan, perkawinan, dsb). Sedangkan netralis itu orangnya atau orang yang menganut paham netral. Kalau bisa kita simpulkan bahwa netral adalah sikap yang berada di pertengan tidak condong ke salah satu sisi, dengan kata lain netral wilayahnya di antara atau abu-abu (tidak jelas).

            Dalam aktivitas kita sehari-hari terutama di kalangan mahasiswa sering kali terbentur dengan realitas atau kenyataan di lapangan yang tidak sesuai dengan idealisme yang dianut. Karena ketidaksiapan menghadapi realitas kehidupan inilah awal dari ‘masalah’ itu, ketika ada aktivis mahasiswa yang menjadi simpatisan partai atau mungkin menjadi kader dan penggiat partai, anggota ormas tentertu kita katakan bahwa dia sudah tidak idealis lagi. Mungkin juga ada aktivis mahasiswa yang bekerjasama dengan pemerintah, partai, ormas, dan lain-lain dalam melaksanakan kegiatan kemahasiswaan bersifat Event Organizer (EO) lalu kita bilang ini pragmatisme (mencari keuntungan-pen) dan kita judge bahwa dia tidak idealis lagi dan masih banyak contoh lain lagi.

            Bagaimana seharusnya idealisme itu? Menurut saya idealisme itu adalah idealisme yang realistis bukan idealisme yang teoritis. Ada kaidah dalam agama kita (islam-pen) “Ats-Tsawabit Wal-Mutaghayyirat” maknanya tsawabit (hal-hal baku yang bersifat permanen) adalah masalah ushul (prinsip) di dalam ajaran islam, dan mutaghayyirat (hal-hal non baku yang mungkin, bisa dan berpotensi untuk berubah-ubah) adalah masalah-masalah furu’ (non prinsip) dari ajaran Islam. Mengutip perkataan ustadz Anis Matta, maka idealis yang realistis adalah idealis yang memadukan antara dua hal yaitu agama dan realitas dengan prinsip ats-tsawabit wal-mutaghayyirat tadi.

            Sebab antara idealis itu berbeda dengan netralis. Netralis itu ada di pertengahan tidak memihak kepada keburukan atau kebaikan, sedangkan idealis itu memihak kepada kebaikan. Beginilah seharusnya mahasiswa harus idealis bukan netralis, ketika seorang aktivis menjadi pendukung salah satu pihak yang ia anggap punya visi dan misi yang benar serta mengajak kepada kebenaran maka tidak ada salahnya seorang aktivis mahasiswa melakukannya. Harus diingat hukum alam kita ini cuma ada dua benar atau salah, laki-laki atau perempuan, syurga atau neraka dan tidak ada di antara keduanya. Allahu’alam…

Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s