Bolehkah Meminta Amanah?

Jamak sering kita dengar bahwa kita dilarang untuk meminta jabatan (amanah) kepada pihak yang berhak memberikan, tetapi ketika diberikan maka kita boleh untuk mengambilnya. Namun apakah sepenuhnya pendapat ini benar? Ataukah boleh kita meminta jabatan sebagai pemimpin? Untuk menjawab pertanyaan di atas atau pertanyaan yang serupa dengan di atas, mari kita simak penjelasan dari Ustadz Farid Nu’man Hasan berikut ini.

Pertama banyak pendapat yang melarang meminta jabatan berlandaskan pada sebuah hadits Rasulullah SAW yang ditujukan kepada sahabat Abu Dzar Al-Ghifari ra. Abu Dzar ra berkata:

Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memperkerjakan aku? Lalu beliau menepuk tangannya ke pundakku, lalu bersabda: ‘Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah, sedangkan tugas itu adalah amanah, dan pada hari kiamat hal itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya sesuai haknya dan menjalankannya dengan baik’” (HR. Muslim No. 1725)

            Hadits ini menunjukkan sebab larangan meminta jabatan, yakni kelemahan Abu Dzar Al Ghifatru ra. Sehingga larangan ini adalah khusus bagi mereka yang lemah. Adapun bagi yang mampu menjalankan dengan baik dan sesuia haknya, mak diluar larangan tersebut dan tidak akan mengalami penyesalan yang dimkasud. Oleh karenanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “…kecuali bagi orang yang mengambilnya sesuai haknya dan menjalankannya dengan baik.”. Ini sesuai dengan pendapat Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Rahimahullah mengatakan bahwasnya siapa saja yang seperti dia bukanlah termasuk yang dilarang dan bukan termasuk yang dibenci, sesungguhnya dibencinya itu adalah jika melekat padanya ketamakan untuk meminta jabatannya itu (Bayan Musykil Al Aatsar, 1/26).

            Kedua kalau selama ini kita (terutama penulis) ‘hanya’ sering mendengar hadits tentang larangan ternyata ada juga hadits tentang kebolehan meminta jabatan. Sahabat Utsman binAbu Al ‘Ash raberkata: “Wahai Rasulullah jadikanlah aku sebagai pemimpin bagi kaumku! Beliau bersabda: “Engkau adalah pemimpin bagi mereka, perhatikanlah orang yang paling lemah di antara mereka, dan angkatlah seorang muadzi dan janganlah upah dia karena azannya.” (HR. Abu Daud No. 531, Ahmad No.17906, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 8365, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 1636, Al Hakim No. 715, katanya: shahih sesuai syarat Imam Muslim. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mentakan: shahih. Tailiq Musnad Ahmad No. 17906)

            Jelas sekali seorang sahabat Nabi, Utsman bin Abu Al ‘Ash ra meminta kedudukan sebagi pemimpin bagi kaumnya yakni dalam konteks hadits ini adalah pemimpin shalat dan nabipun menunjuknya sebagai pemimpin bagi kaumnya itu. Para pensyarah hadits ini dalil kebolehan meminta jabatan kepemimpinan, sebagaimana yang kami paparkan.

Bersama Para Imam dan Ulama

            Berikut beberapa pendapat para ulama tentang meminta jabatan dan juga kepemimpinan dan masih banyak yang tidak bisa dituliskan di sini:

  1. Imam Abul Hasan Al Mawardi Rahimahullah berkata: “Sebagian fuqaha mengatakan bahwa memperebutkan jabatan tidaklah tercela dan terlarang, dan mengincar imamah bukan suatu yang dibenci.” (Al Ahkam As Sulthaniyah, Hal. 7)
  2. Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengomentari: Hadits ini (Hadits Sahabat Utsman bin Abu Al ‘Ash ra) menunjukan kebolehan dalam kebaikan. Telah ada di antara doa-doa para ibudurrahman, di mana Allah Ta’ala mensifati mereka berkata (Dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang bertaqwa), dan meminta jabatan itu bukanlah merupakan hal yang dibenci. (Subulus Salam, 1/128).

Bersama Nabi Yusuf ‘Alaihissalam

            Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Yusuf ‘Alaihissalam yang meminta kepara raja agar dirinya dijadikan penanggungjawab keuangan negerinya:

Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 55).

                Ayat ini menerangkan dua hal, yaitu pertama, meminta jabatan. Kedua, syarat menjadi pejabat yakni hafizhun ‘alim- pandai menjaga amanah dan berpengetahuan. Jika syarat ini tidak terpenuhi, maka tidak selayaknya seseorang meminta-minta jabatan. Seseorang harus jujur tas dirinya, jujur atas niatnya dan kemampuan dirinya. Ayat ini sering dijadikan dasar pra ulama tentang kebolehan meminta jabatan dengan syarat di atas.

                Tertulis dalam Tafsir Al Muyassar  sebagai berikut: Yusuf bermaksud memberikan manfaat bagi manusia, dan menegakkan keadilan di antara mereka, lalu dia berkata kepada raja: “Jadikanlah aku pemimpin (penanggungjawab) atas perbendaharaan negeri Mesir, sesungguhnya aku orang yang amanah terhadap harta, dan memiliki ilmu serta bashirah (kepandaian) terhadap apa-apa yang menjadi tanggungjawabku.” (Tafsir Al Muyassar, 4/155)

                Kesimpulannya bagi orang-orang yang punya kemampuan dan kekuatan maka dia tidak termasuk yang dilarang, bahkan jika dia adil, maka keutamaannya besar sedang menanti dirinya. Berdasarkan hadits Utsman bin Abu Al ‘Ash ra dan kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam.

Sumber: Majalah Al-Intima Edisi No.040 [Jumadil Akhir-Rajab 1434 H / Mei-Juni 2013]

Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s