Ketika Penonton jadi Pemain

Pernahkah anda menonton sebuah pertandingan sepak bola? apakah itu di stadion langsung atau sekedar menonton lewat layar televisi. Kalau memang anda tidak pernah menonton pertandingan sepak bola mungkin pernah menonton sebuah pertandingan cabang olahraga lainnya? Saya rasa dan berkeyakinan kita semua pernah melakukan hal itu, disaat kita sedang berada pada posisi sebagai penonton.

Anda dan saya pasti tahu apa kelebihan menjadi seorang penonton, yah seorang penonton biasanya terlihat ‘lebih pintar’ ketimbang seorang pemain yang sedang berjuang di arena. Sebab penonton bisa dengan gampang mengatakan “Eh si Messi bodoh amat sih, kok gak disodorin bolanya ke teman yang di sebelah kiri jadi gak gol deh” atau komentar yang serupa “Aduh CR7 kok begok banget nggak bisa ngegolin ke gawang yang sudah kosong” dan banyak lagi komentar-komentar yang mirip seperti dua tadi meskipun tak sama persis. Intinya bahwa seorang penonton seolah-olah punya banyak hal yang bisa diperbuat ketika kelak ia menjadi pemain dalam gelanggang.

Saya ingin mencoba bercerita tentang fenomena yang saya lihat, mungkin juga saya salah dalam menilai atau mungkin juga memang benar adanya. Dulu saya menyaksikan orang-orang yang sangat menggebu-gebu ketika menyampaikan kritikannya kepada para ‘pemain’ di lapangan. Setiap ada diskusi atau forum akan ada dialektika yang menghanyutkan, akan ada retorika yang ‘membius’ para penikmat diskusi. Seolah kelak kalau mereka diberi kesempatan menjadi ‘pemain’ selesai sudah segala masalah yang ada. Itu dulu ternyata, perannya hanya penonton. Tetapi ketika para ‘pemain’ itu menoleh, mendengarkan dan kemudian mengajak ‘penonton’ tadi bergabung untuk berjuang bersama, semua berubah tak ada lagi teori nan retoris, tak ada lagi itu, ketika berkumpus di forum resmi hampir-hampir tak terdengar suara itu. Entahlah apa yang terjadi, adakah yang salah dari teori yang lalu. Jawabnya entahlah…

Ada pelajaran penting untukku dan mungkin untuk kita semua bahwa begitulah tabiat ‘penonton’ yang cendrung terlihat lebih pintar dari ‘pemain’ namun ketika sudah sama-sama berada di arena mungkin tak juga lebih baik. Gagasan yang selama ini disuarakan berapi-api kemudian berubah 180 derajat ketika sudah diakomodir. Maka perankanlah ‘perananmu’ sewajarnya saja agar orang tetap respek meski kemudian hari kita ‘salah’. End

Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s