Titik Persinggahan Sejarah

Jalan cerita kehidupan setiap manusia punya alur yang berbeda-beda, meskipun terkadang ada kemiripan tapi tetap tak sama persis. Sebab jalan cerita itu ada ‘Penulis’nya Dia-lah Sang Maha Pemilik Alam Semesta. Cerita-cerita itu dituliskan-Nya di sebuah ‘catatan’ yang sering kita dengar namanya Lauh Mahfudz atau Lauhul Mahfudz. Bahkan semua cerita kehidupan dunia ini tertulis di sana, sehelai daun kering yang jatuh dari ranting pohon pun tak ada yang terjadi begitu saja kecuali sudah tertulis. Namun sejalan dengan firman-Nya dalam surat Ar-Ra’d: 11 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” bahwa ada ruang untuk kita umat manusia untuk bisa ‘menentukan’ nasibnya sendiri.
Saya sebut dengan titik persinggahan sejarah kehidupan adalah momentum-momentum perjalanaan hidup yang bisa dikatakan sebagai permulaan dari sebuah perubahan besar, karena momentum itulah perjalanan kehidupan berubah total. Boleh jadi ini hanya terjadi untuk penulis seorang karena setiap individu mungkin saja berbeda-beda dan juga boleh jadi juga bahwa banyak sekali momentum perubahan itu namun menurut saya yang paling punya pengaruh signifikan. Paling tidak ada empat titik persinggahan sejarah yang penulis sudah, sedang dan akan alami, ini bukan sebuah ramalan hanya sedikit analisa.
Pertama, kelahiran atau ketika saya lahir tentu tidak pertentangan akan momentum ini. Sebab tanpa kelahiran anak manusia tidak akan ada sejarah itu dan semua anak manusia mengalaminya. Meskipun kata Nabi SAW setiap anak yang baru lahir dalam keadaan fitrah (islam) namun faktor orang tualah yang akan menentukan agamanya apakah yahudi, nasrani atau majusi. Di sinilah momentum sejarah itu dimulai.
Kedua, ketika saya kuliah atau memasuki perguruan tinggi. Perubahan mendasar dari mulai pola pikir, motivasi hidup, visi dan misi serta cara menyikapi masalah dan lain-lain berawal ketika saya menjadi mahasiswa ini hingga kemudian ‘tercebur’ dalam barisan dakwah jama’ah tarbiyah. Sejak saat itulah semuanya berubah dan saya mulai mendapatkan jadi diri yang lama dicari.
Ketiga, setelah saya menikah. Walaupun hari ini saya belum menjalaninya akan tetapi saya kira momentum inilah yang nantinya akan merubah perjalanan hidup saya. Mencoba belajar dari para orang tua, sahabat dan saudara yang telah menjalani biduk rumah tangga tampak akan banyak perubaha ketika sudah punya pendamping, paling tidak hidup tak lagi sendiri.
Keempat, kematian. Tentu inilah akhir dari sejarah kehidupan manusia maka momentum inilah yang akan merubah segalanya. Apakah akan menjadi penghuni syurga atau sebaliknya? Apakah akan mendapat siksa atau nikmat-Nya yang tak terhingga. Inilah momentum terakhir yang akan dilewati oleh anak adam dalam fase kehidupan di dunia.
Semoga momentum yang belum terjadi dapat sesuai harapan atau ceritanya akan lebih baik dari sekedar harapan. Dan yang paling penting momentum terakhir itu dapat menjadi cerita indah yang happy ending dengan mati dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin…allahu’alam bissho’af.

Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s