Tabiat Manusia; Tak Ada ‘Lawan’, Kawanpun Jadi

Kerinduanku untuk menulis rasanya sangat memuncak dan tak tertahankan hingga akhirnya kusempatkan waktu yang sesungguhnya banyak hanya managemennya yang belum maksimal. Topic yang masih selalu menarik untuk didiskusikan sampai hari ini tak kan jauh dari tema besar yang selama ini menggumul dalam pikiran dakwah dan pada khususnya dakwah kampus.

Ini tentang tabiat manusia, ya manusia sejak zaman dahulu kala. Mari sejenak kita kembali belajar sirah Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Pernahkah kita bertanya kenapa para sahabat dan sahabiyah dulu sangat membaja ukhuwah islamiyahnya? Sebagaimana kisah-kisah inspiratif yang bertebaran di kalangan para sahabat. Mulai dari kisah sahabat dari kaum anshar Sa’ad bin Rabi Al-Anshari yang rela berbagi harta bahkan rela ‘berbagi’ istrinya dengan sahabat dari kaum muhajirin Abdurrahman bin ‘Auf. Sampai yang paling fenomenal kisah para sahabat saat perang uhud yang memilih untuk tidak minum air yang diberikan kepada mereka demi mendahulukan saudaranya yang lain, padahal mereka dalam situasi sakaratul ma’ut. Itulah ukhuwah yang telah tercatat dalam sejarah kemulian islam yang tetap akan menjadi butiran hikmah sampai saat ini dan yang akan datang.

Lalu apa yang ingin kita bahas di sini? Mari kembali ke pertanyaan awal di atas. . Pernahkah kita bertanya kenapa para sahabat dan sahabiyah dulu sangat membaja ukhuwah islamiyahnya? Jawabannya tentu keimanan dan ketakwaan para sahabat itulah kuncinya. Benar dan sangat-sangat benar jawaban itu. Namun coba kita lihat dari spectrum yang berbeda, adakah factor lingkungan yang berpengaruh? Penulis meyakini bahwa salah satu factor kekuatan ukhuwah islamiyah para sahabat itu adalah lingkungan ketika itu yang memang ada scenario dari Allah. Lingkungan yang senantiasa memberikan tekanan dan tantangan terhadap kaum muslimin ketika itu menjadi salah satu factor penting pembentuk kekuatan ukhuwah islamiyah. Bagaimana tidak para sahabat dan kaum muslimin zaman itu adalah minoritas dan setiap saat selalu menghadapi ancaman baik berupa kekerasan verbal, fisik dan bahkan pembunuhan. Sehingga kaum muslimin pikirannya selalu tercurah untuk senantiasa waspada dan mencari cara bagaimana menghadapi tantangan-tantangan itu bahkan mungkin kaum muslimin ketika itu tak sempat memikirkan diri mereka sendiri.

Apa pula kaitan dengan kondisi kekinian dakwah kita sekarang wabilkhusus dakwah kampus? Ada khusus dakwah kampus di tempat penulis menimba ilmu dan menemukan makna kehidupan ini. Bahwa kondisi hari ini sering terjadi friksi dan tak jarang ada kekeruhan yang kadang kala menyebabkan ukhuwah antar sesama aktivis melemah. Yang paling parah berakibat pada terhambatnya aktivitas dakwah karena para aktivis disibukan dengan saling mengkritisi.

Maka dari itu mari kita belajar menyelami sejarah Rasulullah SAW dan para salafus sholih. Jikalau ingin membuat dakwah ini dinamis lagi perlu kiranya para penggiat dakwah di kampus memikirkan dan mencari tantangan dari luar sehingga tak disibukkan oleh friksi internal, bilapun perlu tantangan atau lawan itu ‘diciptakan’. Karena tabiat manusia memang tak ada lawan dari luar kawanpun jadi. Pesan sang Fisikawan yang menyejarah sekaligus penemu teori relativitas layak untuk direnungkan. “Adalah sebuah kegilaan bila melakukan sesuatu dengan cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda” (Albert Einsten).. Allahu A’lam bishawaf.

Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s