Dia Tak Begitu Istimewa

Sebut saja nama saya “Aku” dan namanya “Dia”. Kami adalah dua insan yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Aku dari klan (keluarga) petani di sebuah kampung yang ada di salah satu provinsi terkaya di Indonesia. Tingkat pendidikan keluargaku yang kurang tinggi atau bahkan cendrung minim, kedua orang tuaku saja hanya lulus SD TT bukan SD IT ya alias Sekolah Dasar Tidak Tamat yang dulu lebih dikenal dengan Sekolah Rakyat (SR). Sedangkan dia lahir dan berasal dari keluarga pegawai negeri di sebuah desa yang tak layak lagi di sebut desa karena lebih seperti perkotaan. Dan sudah barang tentu tingkat pendidikan di keluarganya sangat tinggi, ibu dan bapaknya saja setahuku lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajatnya. Apalagi anak-anaknya termasuk di dalamnya si dia ini. Masih sepengetahuanku saudara dan saudarinya semua sudah menjadi sarajana dengan berbagai bidang keilmuan.

Perkenalanku dengan dia adalah tergolong hal biasa yang sering dialami oleh para aktivis di kampus-kampus. Kami tertakdirkan oleh-Nya bertemu di sebuah forum resmi organisasi tingkat universitas. Forum itu dihadiri oleh perwakilan dari fakultas-fakultas yang ada di kampus kami. Oh ya aku hampir lupa bahwa kami berkuliah di salah satu universitas ternama di Indonesia. Aku dan dia belajar di fakultas yang berbeda. Di forum itu aku mewakili fakultasku dan begitupun dia mewakili fakultasnya. forum itu membicarakan tentang persiapan kepanitian untuk sebuah acara tingkat universitas, acara yang dibuat dalam rangka menyambut junior pertama kami. Terpilihlah aku sebagai ketua pelaksana panitia kegiatan besar itu, sedang dia menjadi salah satu kordinator bidang tertentu.

Hari-hari setelah forum pertama itu dilanjutkan dengan berbagai pertemuan rapat dan diskusi dengan satu tujuan mensukseskan acara yang sudah menjadi agenda tahunan di kampus kami. Rapat bertemu rapat, diskusi bertemu diskusi hanya seingatku dalam rapat-rapat atau diskusi-diskusi kami itu jarang sekali terjadi dinamika yang mencolok, semuanya cendrung datar-datar saja tak seperti rapat-rapat di organisasi sosial politik yang pernah kuikuti. Seiring dengan intensnya pertemuan, interaksi dan komunikasi itulah aku mulai mengenalnya dan berinteraksi dengan dia. Namun seingatku tak banyak kesempatanku berkomunikasi dengan dia, hanya beberapa kali saja, itupun karena ada kebutuhan yang berhubungan dengan bidang di kepanitian yang dia pimpin.

Dalam setiap momen pertemuan, interaksi ataupun komunikasi selama yang aku tau si dia ini tak juga istimewa menurutku. Dia tak begitu hebat dalam narasi, tak begitu cemerlang dalam ide ataupun gagasan dan masih setahuku serta menurut penilaianku dia juga tak begitu cantik yang mencolok, dia terlihat biasa-biasa saja, kecantiakannya sama seperti yang lain kebanyakan. Hanya saja ‘getaran’ hati yang tak beraturan sejak pertama kali aku bertemu dengannya mumbuat ia begitu menarik bagiku. Apaba lagi ada satu perbedaan yang cukup mencolok dari dirinya dengan kebanyakan wanita aktivis lainnya yaitu dia punya sikap introvert fundamentalis dalam berhubungan antar lawan jenis. Dia terasa dan terlihat begitu kaku ketika berhdapan denganku ataupun dengan pria lainnya. Ini aku tahu setelah beberapa kali aku menghubunginya via hendphone ataupun sms sering kali ia tak meresponnya serta cerita yang kudapat dari temanku yang pernah berinteraksi dengan dia. Itulah sisi yang paling menarik bagiku, sisi yang sama sekali bertolak belakang dengan apa yang aku lakukan bersifat terbuak kepada semua orang dan kadang-kadang terasa ‘liar’ dan lainnya. Satu lagi keunikan dia yang sampai sekarang masih terjadi adalah dia tak punya satupun akun media sosial yang ku tahu. Semua terasa unik ditengah dunia komunikasi dan informasi yang sangat terbuka ini masih saja bersifat tradisonal, namun sekali lagi itulah sisi menarik bagiku, disamping tentu hal yang utama ketaatannya dalam beragama yang juga sangat baik. Ini hanya sekelumit singkat kisahku dengan dia, masih banyak kisah mengiringi perjalan kami hingga akhirnya resmi berpisah dari kampus yang kami cintai. Tunggu kisah berikutnya jikalau ada kesempatan dan kesehatan. Salam dariku untukmu! #JalanCintaKita

Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s