Medsos Tak Mewakili Kepribadian Seseorang

“Jangan menilai sesuatu dari luarnya saja” begitu pesan temanku suatu waktu mengingatkan. Nasihat itu tampaknya laik untuk direnungi dan diterjemahkan dalam sikap dan kelakuan hidup ini. Balik ke topik, media sosial (medsos) sekarang ini sudah menjadi kebutuhan primer manusia terutama bagi mereka yang hidup di perkotaan. Kemajuan tekhnologi informasi dan komunikasi membuat orang tak lagi menggantungkan diri pada komunikasi ‘tradisional’ handphone yaitu telepon, sms. Namun dengan mudahnya orang sekarang berinteraksi dengan facebook misalnya, bbm misalnya, wa misalnya dan sejenisnya. Selain faktor tekhnologinya di situ ada fasilitas chatting, video call, broadceast, faktor ekonomis adalah faktor lain yang menjadikan orang lebih memilih medsos. Silahkan anda hitung dan bandingkan biaya yang dikeluarkan untuk komunikasi ‘tradisional’ hp dengan medsos? Tentu jauh lebih murah menggunakan medsos dengan paketnya.

Seiring dengan maraknya medsos ini ada salah satu hal yang sikap kurang tepat menurut saya dialakukan oleh banyak orang (tidak semuanya). Pola interaksi yang tanpa batas di medsos menjadikan orang cendrung mudah menilai dan menyimpulkan seseorang atau individu tertentu ‘hanya’ dengan melihat aktivitas akunnya di media sosial ini. Terkadang dengan mudah orang akan punya kesimpulan bahwa seseorang yang jarang aktif di medsos ini terutama facebook, jarang update status bahkan tidak pernah misalnya, jarang komentar di status teman akunya. Dianggap sebagai orang yang menjaga dan penjagaannya kuat terhadap citra baik. Ataupun sebaliknya seseorang yang dianggap ‘liar’ di medsos akan dianggap orang yang kacaulah kesimpulannya.

Padahal menurut saya penilaian ini tidaklah tepat, sebab pengenalan seseorang terhadap individu tertentu melalui medsos saja. Ia hanya melihat dari satu sisi saja, padahal tak jarang kondisi yang ada di medsos itu sering kali hanya manipulasi diri dari sang pemilik akun. Begitu banyak contoh bisa kita lihat dan teliti, seseorang yang sering membuat status bijaksana (tidak semuanya) ternyata dalam dunia nyata tak lebih baik dari dunia maya. Ada pula yang sebaliknya, yang tampak ‘liar’ di dunia maya namun sangat terjaga dan menjaga di dunia nyata. Banyak sekali status-status palsu, profil-profil palsu, photo-photo profil palsu dan kepalsuan lainnya. Sebab aktivitas seseorang di dunia maya dalam hal ini medsos ta mewakili sepenuhnya kepribadian seseorang. Karena medsos hanya mewakili sebagian kecil dari kepribadian seseorang.

Bagi saya pribadi medsos hanya punya dua fungsi, pertama sarana silaturahmi dan kedua sarana mencari dan berbagi informasi. Tak lebih dari itu, apa yang saya buat di medsos kadang kala di luar kepribadian nyata. Ia sekedar untuk membunuh waktu senggang yang sayang untuk terbuang. Seperti pesan temanku tadi “jangan menilai dari akun media sosialnya saja”. Kau perlu melakukan perjalanan jauh dengannya untuk dapat mengenal dia dengan baik, begitu salah satu nasihat Umar Ibnu Khatab. #RamadhanYaRamadhan

Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s