Ku Ceritakan Padamu

Hari ini tanggal 7 Desember 2015 bertepatan dengan hari senin pukul 18.21 wib, selepas sholat maghrib di sebuah mushollah dekat kosatan kami di salah satu sudut Kota Pempek. Saya hanya ingin bercerita padamu, iya pada kalian yang katanya peduli dengan hal ini atau peduli padsaya atau pun padanya. Cerita ini ku mulai dari pagi tadi, saat saya mengganti foto profil di Blackberry Messengger (BBM) yang lebih keren disebut DP dan foto profil di Facebook (FB) yang lebih keren disebut PP. Setelah saya mengubah DP dan PP berdatanganlah komentar baik di BBM dan FB tadi bernada protes padsaya, padahal sebelumnya saya juga sudah mengupload foto yang sama di Media Sosial (Medsos) lain diantaranya Whatshap (WA), Line, Istagram (IG) dan Twitter tapi tak terlalu ‘heboh. Barangkali karena FB dan BBM lebih ramai penggunanya dan oleh karenanya hanya sedikit yang berkomentar. Sementara di kedua medsos baru dua menit saja sudah hampir puluhan komentar/ inbok yang masuk hingga akhirnya saya putuskan untuk mengganti DP dan PP itu, di BBM foto DP itu bertahan hanya 15 menit saja dan di FB kurang lebih bertahan tak lebih dari 20 menit.

Foto yang ku upload ini adalah fotoku ketika waktu itu sedang merayakan hari bertambah nama belakang/ gelar (wisuda ke 112 di Unsri). Tepatnya mei 2014 yang lalu, foto itu adalah fotoku bersama dua orang lainnya yang keduanya kebetulan wanita (akhwat), sebut saja mereka NS dan WD. Masalah mulai muncul setelah saya bersama beberapa teman terutama yang sekamar denganku di Rumah Susun Mahasiswa (Rusun) dulu dan beberapa tetangga lainnya semuanya laki-laki (ikhwan) melihat-lihat foto wisuda itu pasca beberapa hari dari acara seremoninya. Setelah itu ternyata ada seorang akhwat lain yang lebih senior dari NS menanyakan prihal foto itu kepada NS, si penanya ini tau dari seseorang ikhwan yang mengsaya pernah melihat foto itu. Dan akhirnya si NS bercerita padsaya serta memintsaya untuk menghapus foto itu, namun saya keberatan karena menurutku tidak ada yang salah dengan foto itu. Selesai sudah saya pikir semua berjalan baik-baik saja sampai akhirnya saya kemudian memulai aktivitas di luar kampus serta si NS juga lulus dari studinya dan beliau kembali ke kota kelahirannya.

Sebelum saya lanjutkan ada baiknya saya bercerita tentang relasi saya dan NS. Terus terang saya memang cukup punya kedekatan dengan NS semasa masih aktif menjadi mahasiswa di kampus dulu. Pertama kali karena dulu kami punya komunitas sebut saja IS yang coba merintis sosial preneurship. Walau sebelumnya memang sudah pernah ada komunikasi dengan beliau, namun tak seintensif setelah berada di IS. Tambah intensif lagi ketika kami merancang penulisan buku antologi yaitu kumpulan tulisan dari anggota IS, kebetulan saya ketua tim perumus dan NS serta tiga orang akhwat lainnya menjadi anggota tim perumus buku. Sehingga komunikasi antara saya dengan NS ini cukup intens membahas program dan/ atau hal lainnya. Bahkan setelah beliau sudah jauh di kotanya saya masih sering berkomunikasi dengan beliau untuk menuntaskan percetakan buku yang ternyata belum kesampaian semasa kami masih di kampus, NS dan satu anggota tim lainnya yang telah jauh juga di kota Bangka sering kali saya minta untuk mengerjakan tugas komponen pelengkap penulisan buku itu. Kedekatan itulah yang membuat saya dan NS sedikit banyak tak punya rasa canggung untuk bercanda dan/ atau bercerita baik itu langsung atau hanya sekedar berkomen ria di sosial media.

Lalu setelah buku yang kami rancang itu berhasil dicetak dan disebarluaskan, komunikasi saya dengan NS mulai jarang dikarenakan kesibukan serta ketidakadanya kepentingan yang mendesak lagi, meskipun sesekali tetap ada walau hanya sekedar menyapa. Pasca setahun lebih saya wisuda belakangan saya merasa ada yang perubahan sikap NS terhadapku, ia nampak sinis ketika berkomentar di grup WA komunitas IS yang kuceritakan tadi dan juga sinis berkomentar di status Ignya ketika saya berkomen ria. Awalnya saya merasa biasa saja dan berusaha berhusnuzhon kepada beliau, namun ada seorang teman yang satu komunitas tadi menyatakan pandangan yang sama denganku tentang kesinisan NS ini. Maka saya yang tidak ingin adanya silaturahmi yang rusak diantara kami, berusaha mengkonfirmasi perasaan itu. Pada awalnya beliau tak serta-merta mengakui hal itu, namun pada akhirnya beliau bercerita bahwa akar masalahnya adalah pada foto itu (foto wisuda). Beliau bercerita banyak hal bahwa beliau dilapori seorang informan yang lagi-lagi iikhwan teman saya sebut saja IN mengenai foto itu disertai katanya pernah berkomentar dengan kalimat yang menurut NS sangat mengecewakannya. Menurut si IN bahwa saya mengucapkan kalimat itu di momen buka bareng di ramadhan satu tahun lalu tepat setelah beberapa bulan saya wisuda, buka bareng itu antara saya dan teman AGENDA’08 ikhwan. Saya bingung sebab seingat saya kami (AGENDA’08) itu secara resmi tidak pernah melaksanakan buka bareng itu baik semasa masih aktif di kampus apalagi ramahdan 2014 yang notabene para anggota AGENDA’08 sudah banyak yang menjadi sarjana. Secara otomatis bila buka barengnya tidak ada apalagi ucapannya, acara buka bareng itu sudah saya tanyakan ke beberapa ikhwan anggota AGENDA’08 dan mereka pun mengkonfirmasi tidak pernah ada acara itu.

Kemudian melalui pesannya pula NS menyampaikan keinginannya memutuskan silaturahmi dengan saya karena selama ini beliau memendam perasaan marah dan kecewa kepada saya. Kata beliau semakin sering beliau berkomunikasi dengan saya maka rasa sakit hatinya akan semakin besar, sehingga beliau meminta saya menunfollow dan/ atau menghapus seluruh kontak di akun medsos begitupun dengan beliau akan melakukan hal yang sama. Yang lebih parah lagi beliau meminta saya untuk melupakan serta menganggap bahwa saya dengan beliau seolah tidak pernah saling kenal karena beliau jikalau sudah kecewa tak mampu lagi memaafkan. Saya kesal dengan kondisi ini, sebab saya dituduh berbuat kejahatan namun hak-hak saya sebagai seorang muslim untuk dimintai klarifikasi (tabayyun) tak ditunaikannya. Begitupun kaidah seorang muslim yang dituduh berbuat kejahatan wajib dibuktikan oleh yang menuduh dalam hal ini si IN pemberi informasi sekaligus penuduh dalam hal ini. Pembuktiaan dalam islam itu adil kalau seseorang menuduh orang lain berbuat kejahatan maka ia harus membawa saksi minimal dua orang selain dirinya untuk kejahatan di laur perzinahan, apabila kasusnya adalah tuduhan perzinahan maka si penuduh harus membawa saksi minimal empat orang selain dirinya disertai bukti lain kalau ada. Semua hak dan kaidah itu diabaikan dan dirampas oleh NS, beliau dengan serta merta langsung ‘menvonis’ saya bersalah.

Akhirnya saya meminta pada NS untuk memberitahukan siapa IN? Dan apa ucapan yang dituduhkan pada saya? Sebab saya merasa tidak pernah melakukan hal itu, jadi saya minta saya dan IN dikonfrontir untuk membuktikan siapa yang benar. Namun NS menolak dengan alasan rahasia dan menjag amanah dari si IN untuk tidak membuka infromasi itu kepada siapapun serta meminta saya untuk mencari sendiri siapa dan apa informasi itu. Saya mencoba mereka-reka ulang apakah ada momen acara buka bareng dan ucapan itu, namun keterbatasan memori saya disertai konfrimasi dari beberapa teman tadi meyakinkan saya bahwa hal itu tidak pernah ada. Dengan segala upaya saya coba meminta NS untuk membukanya namun jawaban yang saya dapat masih tetap sama. Pada akhirnya saya mengancam NS akan melakukan hal yang bisa saya lakukan dengan apa yang saya punya, ‘keteguhan hati’ NS boleh diacungi jempol sebab ia tak bergeming. Baiklah saya coba mengurangi permintaan bahwa saya hanya minta nama IN dan ucapan yang dituduhkan pada saja tak lebih, saya tak akan melakukan apapun setelah itu. Keinginan saya itu saya sampaikan ke sahabatnya NS yang ternyata tau masalah ini, beliau ketika masalah ini mencuat menghubungi saya. Saya tidak tau darimana beliau ini sebut saja TA tau masalah saya dengan NS. Beberapa kali saya coba menghubungi NS melalui BBM, WA serta menelepon namun ternyata akun medsos saya sudah diblokir oleh NS dan telepon saya tak pernah dijawab.

Dan endingnya kamu tahukan saya membuktikan ucapan saya, sebab saya hanya menghormati kaidah pribahasa arab “Laki-laki itu dinilai dari perkataannya …”. Saya lakukan apa yang saya bisa yaitu mengupload foto yang tadi sudah kamu lihat. Sebenarnya saya tak pernah berharap ini terjadi, namun inilah kenyataan yang harus saya terima. Ancaman yang harus berbuah kenyataan, saya tau konsekuensinya dengan melakukan itu. Saya hanya berharap kamu menilai hal ini dengan cara lebih objektif, saya akui ini salah namun kesalahan ini tak berdiri sendiri. “… Dan janganlah kebencianmu kepada suatu kaum, mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) lebih dekat dengan takwa…” (Q.S Al-maidah: 8). Mengutif ungkapan Pramoediya Ananta Toer “Berlaku adillah semenjak dalam pikiran apalagi perbuatan”. END

Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Ku Ceritakan Padamu

  1. sukmawriter says:

    Waah, sinh sabar bang dami, pin bbm ganti tah? Re-invite ga bs

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s