Tahukah kau bulan betapa aku selalu merinduimu?

Serindu rerumputan yang telah lama kekeringan, menanti jatuhnya butiran hujan.

Sejak kali pertama kita bersua, sungguh aku telah kagum padamu.

Kekagumanku beralasan, tersebab kau bercahaya meski tak selalu begitu

Namun cahayamu itu telah mampu menerangi jalanan gelap ditengah pekatnya malam.

Hari-hari ini aku bersusah hati, berduka jiwa dan bersedih pikir oleh karena persahabatanku denganmu.

Iya persahabatan kita yang tlah terjalin indah, harus terburai putus.

Sedari dulu aku sangat menikmati disetiap kali berjumpa denganmu.

Biarpun tak pernah kita hanya berdua saja, sebab selalu ada bintang-bintang yang menemani malam.

Aku sadar bulan ini semua karena salahku,

Aku tak mampu menjaga lisan, laku, dan pikirku.

Hingga kau tak sudi lagi bersua denganku,

Oh bulan sungguh aku menyesal, telah berbuat begitu padamu.

Izinkanlah aku menghaturkan pinta maaf kepadamu,

Aku tahu ini takkan cukup ‘menghapus’ dosaku yang kadung tertulis.

Juga takkan bisa merubah dan mengembalikan segalanya

Namun hanya ini yang dapat aku buat, sementara ini.

Dariku si Pungguk  yang selalu merindukan Bulan.

Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s