Beda Mirna, Beda Pula Munir

 

munir dan mirna

Kalau ditanya “anda tau dengan nama Mirna?”. Barangkali hampir mayoritas masyarakat Indonesia ini tau dengan nama itu. Sebab korban pembunuhan dengan cara diracun ini kasusnya nyaris setiap waktu menghiasi pemberitakan media masa di Indonesia. Sejak kematiannya Januari 2016 lalu sampai sekarang media masa baik itu elektronik maupun cetak setiap hari membuat berita perkembangan kasus Mirna.
Tapi kalau ada yang bertanya “apakah anda tau dengan nama Munir?” Mungkin hanya sebagian kecil masyarakat di Indonesia ini yang tau dengan nama yang satu ini. Walaupun kasus pembunuhannya ‘mirip’ dengan Mirna, kedua korban itu meninggal karena diracun. Namun karena rentang waktu yang sudah cukup lama kasusnya terjadi tepatnya September 2004 alias sudah 12 tahun berlalu. Barangkali orang sudah banyak yang lupa mengenai kasus pembunuhan Munir ini. apalagi menurut saya kala itu pemberitaan media masa tak ‘sebombastis’ kasusnya Mirna saat ini.

Kebutulan sekali beberapa hari ini saya sedang membaca buku yang berkaitan dengan kasus pembunuhan Munir. Judul bukunya “Kasus Pembunuhan Munir, Kejahatan Yang Sempurna?” yang ditulis oleh Wendratama, cetakan tahun 2009. Buku yang sebenarnya sudah lama saya beli namun baru tertarik membacanya belakangan ini. Ada beberapa persamaan dan perbedaan dalam kedua kasus pembunuhan terhadapa kedua korban antara alm. Munir dan almh. Mirna yang layak dicermati.

~Persamaan

Pertama, antara korban Munir dan Mirna menariknya nama keduanya punya kemiripan diawali dengan huruf “M” serta terdiri dari lima huruf untuk nama panggilan dan ada gabungan tiga kata dalam nama lengkap mereka. Nama lengkan Mirna itu Wayan Mirna Sholihin, sedangkan Munir punya nama lengkap Munir Said Thalib.

Kedua, sama-sama dibunuh dengan cara diracun, racun yang digunakan pun sama-sama sangat mematikan. Mirna dibunuh dengan racun jenis Sianida, sedangkan Munir menggunakan racun jenis Arsenik.

Ketiga, lokasi peracunan keduanya sama-sama di ‘warung kopi’. Mirna di racun oleh temannya sendiri (dalam hal ini tersangka Jessica Kumala Wongso) di Kafe Olivier, Jakarta. Adapun Munir menurut putusan PK Mahkamah Agung (MA) diracuni oleh terpidana Pollycarpus Budi Priyanto (pilot Garuda Indonesia) di Coffe Bean bandara Changi, Singapura. Dalam perjalanannya penerbangan Jakarta (Indonesia) – Uttrech (Belanda) yang transit di Singapura.

~Perbedaan

Dengan tidak menafikan bahwa kedua orang ini adalah korban pembunuhan berencana yang sangat sadis. Namun pada kedua kasus pembunuhan ini ada perbedaan yang mencolok menurut saya.

Pertama pemberitaan media masa, pada kasus Mirna seperti yang saya utarakan di awal tadi media masa seolah-olah berlomba untuk menghadirkan perkembangan kasus dari waktu ke waktu. Media Televisi, Koran, Online, dll, ada saja berita yang dihadirkan pada pemirsanya. Sangat berbeda dengan kasus pembunuhan Munir, pemberitaan media tak ‘sebombastis’ kasus Mirna.

Perbedaan berikutnya rentang waktu penyelidikan kasusnya. Bila kasus Mirna ‘hanya’ butuh waktu kurang dari satu bulan polisi sudah mampu menetapkan tersangka dan berikut motifnya (pengakuan polisi di media sudah diketahui dan akan diungkap di pengadilan). Untuk kasus Munir butuh waktu lebih lama paling tidak enam bulan dari September 2004 sampai Maret 2005 polisi baru mampu mengungkap tersangka pembunuhan, namun belum mampu mengungkap motifnya hingga hari ini.

Perbedaan terakhir yang mungkin adalah awal dari semua perbedaan yang ada bahwa Munir adalah aktivia HAM yang sangat vokal mengkritisi kebijakan penguasa dalam hal penegakan HAM di Indonesia dan sedikit banyak telah dikenal masyarakat luas karena kiprahnya. Ia ikut mendirikan LSM Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) dan Imparsial. Ada pun Mirna yang sebelum kasus pembunuhannya tak pernah dikenal namanya di kalangan masyarakat luas, namun ia merupakan anak dari pengusaha top Indonesia Darmawan Sholihin yang kaya raya. ‪#‎MelawanLupa‬

*sudah pernah saya posting di Facebook

Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s