Penyakit Lisan “Balaghi” Memfasih-fasihkan Pembicaraan

Salah satu penyakit lisan yang disebutkan dalam buku “Retorika Haraki” karya Amiruddin Rahim, tepatnya di halaman 65-66 adalah berfasih-fasih dalam berbicara untuk menarik perhatian (at-taqa’ur fil kalam).

Berbicara fasih, jelas, terang merupakan tuntutan dalam berkomunikasi agar tidak menimbulkan ketaksamaran makna. Namun, menfasih-fasihkan atau memaksakan diri berbicara fasih dengan maksud mendapatkan perhatian dari orang lain merupakan sikap tercela. Rasulullah saw, bersabda:
“Sesungguhnya Allah murka kepada orang yang sangat balaghi (dalam berbicara), yang memutar-mutar lisannya seperi lembu yang memutar-mutar lidahnya.” (HR. Abu Daud)

Dalam kitab An-Nihayah dikatakan, “tasyaddu fil kalam” maksudnya melipatnya lidah seperti lembu yang melipat rumput dengan lidahnya. Diumpamakan di sini dengan lembu karena binatang-binatang yang lain mengambil makanan dnegan gigi, sedangkan lembu mengumpulkan makanan dengan lidahnya. Orang yang pada dasarnya “balaghi”, maka itu tidak apa-apa.

Dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa belajar berlebih-lebihan (dalam mengungkapkan) pembicaraan untuk menarik hati manusia, maka Allah tidak akan menerima pada hari kiamat tobat dab fidyahnya.” (HR. Abu Daud)

Kata “sharful kalam” dalam hafits ini maksudnya adalah melebih-lebihkan ungkapan ran menjadikan lisan tufak berbicara seperlunya.

Salah satu modal untuk dapat diterima dalam menjalin hubungan dengan orang lain adalah menarik perhatian. Untuk itu kerap kali orang berakting untuk mendapatkan perhatian orang lain. Namun kadang kala orang sering kebablasan dalam akting yang dimainkan, sehingga sering dijuluki “over acting”, sok gagah, sok fasih. Memfasih-fasihkan lidang mengandung unsur manipulasi, yaitu ingin meyakinkan orang lain bahwa dirinya memiliki kelebihan, padahal sebenarnya tidak demikian. Misalnya saja ada orang yang sering menggunakan aksen Inggris untuk menunjukkan bahwa dia dapat berbahasa Inggris, atau dengan aksen Arab untuk menunjukkan bahwa dia dapat berbahasa Arab, walaupun pada kenyataannya tidak demikian. Inilah yang dibenci oleh Allah swt.

Menurut penulis (bukan penulis buku-red) bahwa sebaiknya berhati-hatilah ketika berkomunikasi baik dalam lisan ataupun tulisan dalam konteks pemakaian aksen-aksen asing ataupun istilah-istilah asing yang orang lain sulit mengerti, agar jangan sampai kita termasuk ke dalam orang-orang yang memfasih-fasihkan pembicaraan. Allahu’alam…

*sudah pernah saya posting di Facebook

Advertisements

About syahdami

Manusia biasa yang ingin selalu menjadi luar bias, sifat keras tapi penuh kasih sayang (mirip Umar bin Khatab ra. ^_^).
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Balas

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s