Pasportku

Kali pertama terpikir untuk membuat pasport, ketika saya membaca tulisannya Prof. Renald Kasali. Tulisan itu bercerita tentang metode beliau mengajari mahasiswanya. Beliau memberi tugas agar mahasiswabya membuat pasport dan pergi ke luar negeri untuk membuka wawasan para mahasiswa bagaimanapun caranya. Karena dengan ke luar negeri masih menurut Prof. Renald mahasiswa belajar dari spektrum berpikir yg lebih luas. Dan hampir sebagian besar mahasiswanya yg membuat pasport berhasil pergi ke luar negeri.

Akhir tahun 2014 lalu tepatnya bulan desember saya membaca pengumuman adanya program beasiswa dari Kerajaan Brunei Darussalam yang salah satu syaratnya adalah adanya pasport. Dengan niat mengikuti seleksi program itu saya akhirnya membuat pasport di kantor imigrasi palembang.
Walaupun pada akhirnya saya tak jadi ikut seleksi program beasiswa itu karena persyaratannya masih kurang, alhamdulillah syukur keinginan punya pasport terwujud.

Pasport adalah ‘tiket pertama’ untuk kita bisa menjelajahi dunia yg luas ini. Semoga ada kesempatan pergi ke negeri orang, destinasi yg ingin saya tuju negeri Khilafah Utsmani dan Negeri Para Ninja. 🙂
#pasport

Aside | Posted on by | Leave a comment

Medsos Tak Mewakili Kepribadian Seseorang

“Jangan menilai sesuatu dari luarnya saja” begitu pesan temanku suatu waktu mengingatkan. Nasihat itu tampaknya laik untuk direnungi dan diterjemahkan dalam sikap dan kelakuan hidup ini. Balik ke topik, media sosial (medsos) sekarang ini sudah menjadi kebutuhan primer manusia terutama bagi mereka yang hidup di perkotaan. Kemajuan tekhnologi informasi dan komunikasi membuat orang tak lagi menggantungkan diri pada komunikasi ‘tradisional’ handphone yaitu telepon, sms. Namun dengan mudahnya orang sekarang berinteraksi dengan facebook misalnya, bbm misalnya, wa misalnya dan sejenisnya. Selain faktor tekhnologinya di situ ada fasilitas chatting, video call, broadceast, faktor ekonomis adalah faktor lain yang menjadikan orang lebih memilih medsos. Silahkan anda hitung dan bandingkan biaya yang dikeluarkan untuk komunikasi ‘tradisional’ hp dengan medsos? Tentu jauh lebih murah menggunakan medsos dengan paketnya.

Seiring dengan maraknya medsos ini ada salah satu hal yang sikap kurang tepat menurut saya dialakukan oleh banyak orang (tidak semuanya). Pola interaksi yang tanpa batas di medsos menjadikan orang cendrung mudah menilai dan menyimpulkan seseorang atau individu tertentu ‘hanya’ dengan melihat aktivitas akunnya di media sosial ini. Terkadang dengan mudah orang akan punya kesimpulan bahwa seseorang yang jarang aktif di medsos ini terutama facebook, jarang update status bahkan tidak pernah misalnya, jarang komentar di status teman akunya. Dianggap sebagai orang yang menjaga dan penjagaannya kuat terhadap citra baik. Ataupun sebaliknya seseorang yang dianggap ‘liar’ di medsos akan dianggap orang yang kacaulah kesimpulannya.

Padahal menurut saya penilaian ini tidaklah tepat, sebab pengenalan seseorang terhadap individu tertentu melalui medsos saja. Ia hanya melihat dari satu sisi saja, padahal tak jarang kondisi yang ada di medsos itu sering kali hanya manipulasi diri dari sang pemilik akun. Begitu banyak contoh bisa kita lihat dan teliti, seseorang yang sering membuat status bijaksana (tidak semuanya) ternyata dalam dunia nyata tak lebih baik dari dunia maya. Ada pula yang sebaliknya, yang tampak ‘liar’ di dunia maya namun sangat terjaga dan menjaga di dunia nyata. Banyak sekali status-status palsu, profil-profil palsu, photo-photo profil palsu dan kepalsuan lainnya. Sebab aktivitas seseorang di dunia maya dalam hal ini medsos ta mewakili sepenuhnya kepribadian seseorang. Karena medsos hanya mewakili sebagian kecil dari kepribadian seseorang.

Bagi saya pribadi medsos hanya punya dua fungsi, pertama sarana silaturahmi dan kedua sarana mencari dan berbagi informasi. Tak lebih dari itu, apa yang saya buat di medsos kadang kala di luar kepribadian nyata. Ia sekedar untuk membunuh waktu senggang yang sayang untuk terbuang. Seperti pesan temanku tadi “jangan menilai dari akun media sosialnya saja”. Kau perlu melakukan perjalanan jauh dengannya untuk dapat mengenal dia dengan baik, begitu salah satu nasihat Umar Ibnu Khatab. #RamadhanYaRamadhan

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dia Tak Begitu Istimewa

Sebut saja nama saya “Aku” dan namanya “Dia”. Kami adalah dua insan yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Aku dari klan (keluarga) petani di sebuah kampung yang ada di salah satu provinsi terkaya di Indonesia. Tingkat pendidikan keluargaku yang kurang tinggi atau bahkan cendrung minim, kedua orang tuaku saja hanya lulus SD TT bukan SD IT ya alias Sekolah Dasar Tidak Tamat yang dulu lebih dikenal dengan Sekolah Rakyat (SR). Sedangkan dia lahir dan berasal dari keluarga pegawai negeri di sebuah desa yang tak layak lagi di sebut desa karena lebih seperti perkotaan. Dan sudah barang tentu tingkat pendidikan di keluarganya sangat tinggi, ibu dan bapaknya saja setahuku lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajatnya. Apalagi anak-anaknya termasuk di dalamnya si dia ini. Masih sepengetahuanku saudara dan saudarinya semua sudah menjadi sarajana dengan berbagai bidang keilmuan.

Perkenalanku dengan dia adalah tergolong hal biasa yang sering dialami oleh para aktivis di kampus-kampus. Kami tertakdirkan oleh-Nya bertemu di sebuah forum resmi organisasi tingkat universitas. Forum itu dihadiri oleh perwakilan dari fakultas-fakultas yang ada di kampus kami. Oh ya aku hampir lupa bahwa kami berkuliah di salah satu universitas ternama di Indonesia. Aku dan dia belajar di fakultas yang berbeda. Di forum itu aku mewakili fakultasku dan begitupun dia mewakili fakultasnya. forum itu membicarakan tentang persiapan kepanitian untuk sebuah acara tingkat universitas, acara yang dibuat dalam rangka menyambut junior pertama kami. Terpilihlah aku sebagai ketua pelaksana panitia kegiatan besar itu, sedang dia menjadi salah satu kordinator bidang tertentu.

Hari-hari setelah forum pertama itu dilanjutkan dengan berbagai pertemuan rapat dan diskusi dengan satu tujuan mensukseskan acara yang sudah menjadi agenda tahunan di kampus kami. Rapat bertemu rapat, diskusi bertemu diskusi hanya seingatku dalam rapat-rapat atau diskusi-diskusi kami itu jarang sekali terjadi dinamika yang mencolok, semuanya cendrung datar-datar saja tak seperti rapat-rapat di organisasi sosial politik yang pernah kuikuti. Seiring dengan intensnya pertemuan, interaksi dan komunikasi itulah aku mulai mengenalnya dan berinteraksi dengan dia. Namun seingatku tak banyak kesempatanku berkomunikasi dengan dia, hanya beberapa kali saja, itupun karena ada kebutuhan yang berhubungan dengan bidang di kepanitian yang dia pimpin.

Dalam setiap momen pertemuan, interaksi ataupun komunikasi selama yang aku tau si dia ini tak juga istimewa menurutku. Dia tak begitu hebat dalam narasi, tak begitu cemerlang dalam ide ataupun gagasan dan masih setahuku serta menurut penilaianku dia juga tak begitu cantik yang mencolok, dia terlihat biasa-biasa saja, kecantiakannya sama seperti yang lain kebanyakan. Hanya saja ‘getaran’ hati yang tak beraturan sejak pertama kali aku bertemu dengannya mumbuat ia begitu menarik bagiku. Apaba lagi ada satu perbedaan yang cukup mencolok dari dirinya dengan kebanyakan wanita aktivis lainnya yaitu dia punya sikap introvert fundamentalis dalam berhubungan antar lawan jenis. Dia terasa dan terlihat begitu kaku ketika berhdapan denganku ataupun dengan pria lainnya. Ini aku tahu setelah beberapa kali aku menghubunginya via hendphone ataupun sms sering kali ia tak meresponnya serta cerita yang kudapat dari temanku yang pernah berinteraksi dengan dia. Itulah sisi yang paling menarik bagiku, sisi yang sama sekali bertolak belakang dengan apa yang aku lakukan bersifat terbuak kepada semua orang dan kadang-kadang terasa ‘liar’ dan lainnya. Satu lagi keunikan dia yang sampai sekarang masih terjadi adalah dia tak punya satupun akun media sosial yang ku tahu. Semua terasa unik ditengah dunia komunikasi dan informasi yang sangat terbuka ini masih saja bersifat tradisonal, namun sekali lagi itulah sisi menarik bagiku, disamping tentu hal yang utama ketaatannya dalam beragama yang juga sangat baik. Ini hanya sekelumit singkat kisahku dengan dia, masih banyak kisah mengiringi perjalan kami hingga akhirnya resmi berpisah dari kampus yang kami cintai. Tunggu kisah berikutnya jikalau ada kesempatan dan kesehatan. Salam dariku untukmu! #JalanCintaKita

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jalan Juang Kita

Manusia dengan kemanusiawiannya memang menghasratkan segala cita-cita dan harapannya terlaksana dengan segera. Karena sifat itu lahir dari fitrahnya sebagai hamba-Nya yang diberikan nafsu. Namun terkadang ia lupa bahwa segalanya yang ada di bumi ini, baik itu keberadaan makhluk, kejadian, cahaya bintang dan semuanya tak pernah luput dari skenario Sang Pemilik Kerajaan Bumi dan Langit. Skenario yang telah tertulis dalam kitab Lauh Mahfudz Allah, bahkan sampai sehelai daun tua yang jatuh dari rantingnya pun telah tertulis. Tersebab itulah tugas manusia ‘hanya’ berikhtiar secara maksimal di bumi sembari berharap ‘konspirasi’ dari langit.

Ingatlah pula rambu-rambu dari-Nya bahwa sesuatu yang dicintai belum tentu baik di sisi Allah, sebagaiman firman-Nya dalam surah Al-Baqarah ayat 216: “Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”. Maka sikap yang paling layak kita hadirkan dari setiap kejadian yang tak sesuai rencana adalah senantiasa berhuzhnuzhon kepada Allah SWT.

Perjalanan ini telah cukup jauh meninggalkan startnya dan juga sudah cukup panjang rutenya, disertai pula telah banyak pihak terlibat di dalamnya. Rasanya kecil dan sulit untuk sekedar berhenti apalagi mundur ke belakang. Sebab sudah cukup banyak energi tercurah, waktu teralokasi, dan begitupun pemikiran yang tersedot di dalamnya. Dan boleh jadi Allah menghendaki masing-masing kita untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan lebih matang dan terus melakukan kesiapan diri dengan lebih baik.

Inilah jalan juang kita yang dalam perjalanannya tak semulus harapan. Jalannya begitu banyak lobang dan tak banyak track lurus. Sehingga waktu untuk sampai ke tujuan harus ditempuh jauh lebih lama dari perkiraan. Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk dapat melewati ‘krikil-krikil’ di jalan ini. Aamiin…#jalancintakita

Posted in Uncategorized | Leave a comment

~Serba Abu-Abu~

Apa mungkin sudah jadi tren di kalangan aktivis? Bahwa mereka tidak berpacaran namun ‘punya teman’ komunikasi lawan jenis yg intens dan cendrung intim berupa (sms, chat, telponan dkk).

Lalu apa bedanya dg pacaran? Nyaris tak ada, hanya mungkin beda kalau yg berpacaran sering ketemuan. Sedang yg ini jikapun bertemu interaksinya kebanyakan para aktivis dengan lawan jenis. Bicaranya sedikit, tegas dan tak mendayu. Kemudian bila berpapasan di jalan kepala menunduk bahkan tak jarang saling ‘buang muka’.

Mungkin aku yang salah melihat, mendengar dan menyimpulkan. Mudah-mudahan aku benar salah, aku berharap begitu.
Dan kalaupun benar semoga masih ada waktu untuk berubah, sebab kasihan adik-adik yg jadi ‘followers’ kalian kalaupun hari ini kalian adalah para senior, para murrobi. Semoga aku terhindar dal hal-hal semacam itu. Aamiin… (Dari FB Syahdami Habibur)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Amanah Dan Tiga 3 Pengembannya

Amanah adalah kata dengan sejuta makna. Ia bisa bermakna ganda sebab kata amanah bisa menjadi kata sifat dan bisa menjadi kata kerja. Kata sifat apabila di awal kalimatnya ada subjek, misalnya kalimat “Si Fulan ini adalah orang yang amanah” makna kata amanah berarti dapat dipercaya atau bertanggungjawab. Tetapi amanah bisa menjadi kata kerja apabila kata amanah menjadi subjek, misalnya pada kalimat “Sebaiknya amanah ini diberikan kepada Si Fulan” makna kata amanah ini berarti sebuah tanggungjawab atau pekerjaan. Kata ini berasal dari bahasa arab yang diadobsi kedalam bahasa Indonesia dengan makna yang sama.

Dalam kehidupan ini kita semuanya tidak akan pernah terlepas dari amanah dari Sang Khaliq, karena hakikatnya kita hidup menjadi manusia adalah amanah dari-Nya. Bagaimana tidak? Tersebab kita yang berasal dari sel sperma ini telah terpilih oleh Allah dari berjuta sel sperma lainnya untuk menjadi pemenang dalam ‘pertarungan’ membuahi sel telur. Begitupun aktivitas dakwah maka amanah adalah sesuatu keniscayaan bagi seorang aktivis dakwah. Karena amanah merupakan tulang punggung dakwah, bagaimana mungkin dakwah ini menyebar jika tanpa amanah amar ma’ruf tak diemban oleh para da’i, lalu bagaimana pula kalau amanah nahi munkar tak ada yang mengembannya? Tentu dien ini takkan pernah sampai kepada diri kita. Amanah memang memerlukan para pengembannya untuk dapat berjalan sesuai harapan Sang Pemberi. Namun para pengemban amanah tak selalu sesuai harapan, sebab mereka adalah manusia biasa yang setiap saat berpeluang melakukan khilaf dan salah. Berlandasankan teori itu para pengemban amanah ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe.

Pertama, pengemban amanah yang kuat secara teori tetapi lemah secara praktik. Pengemban tipe ini punya kemampuan retorika yang luar biasa dengan banyak referensi literature yang ia baca, wawasannya yang luas terkadang tak jarang mampu ‘menyihir’ para pendengarnya. Namun ketika amanah itu sampai padanya, ia seolah gagap menghadapinya. Ia kesulitan mewujudkan teori-teori yang ia punya dalam benak pikirannya, program-program yang ia buat seringkali hanya sampai pada cacatan buku agenda. Salah satu penyebabnya ia tak punya cukup pengalaman dalam kerjanya dan cendrung lebih menyukai aktivitas di depan public tetapi kurang menyukai kerja-kerja teknis lapangan. Dan yang tak kalah penting ia kekurangan tekad untuk mendistribusikan ide-idenya menjadi sebuah realita. Penulis secara pribadi merasa takut dengan tipe ini dan mengingatkan kepada kita semua terutama penulis sendiri. Untuk berusaha sekuat tenaga menghindarinya oleh karena boleh jadi ini termasuk ke dalam salah satu ciri sifat munafik sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW bahwa cirri-ciri seorang munafik adalah bila bicara ia berdusta, bila berjanji ia ingkar dan bila diberikan amanah ia khianat. Tersebab lemah secara praktik sama artinya tak menunaikan amanah dengan baik.

Kedua, pengemban amanah yang lemah secara teori tetapi kuat secara praktik. Pengemban tipe ini biasanya cendrung sukses menunaikan amanahnya dengan baik berdasarkan pemahaman yang ia dapat dari pengalaman-pengalaman praktis kerja-kerja tekhnis di lapangan kerjanya. Pengembannya mayoritas merupakan ‘orang dalam’ yang terlibat secara langsung di dalam aktivitas-aktivitas dari amanah yang ia emban jauh sebelum ia secara ‘resmi’ memikulnya. Tetapi kelemahan dari tipe ini pengembannya cendrung kekurangan konsep dalam pengembangan kerjanya dan sangat membutuhkan personil-personil dalam timnya yang kuat secara teori. Menurut penulis tipe kedua ini lebih baik daripada tipe sebelumnya.

Ketiga, pengemban amanah yang kuat secara teori dan kuat pula secara praktiknya. Tentu kita semua mengharapkan agar kita dapat dikategorikan kedalam tipe ini. Namun perlu diingat pengemban tipe ini cendrung sangat sedikit sekali. Pengembannya perlu melakukan persiapan intlektual dan pengalaman sekaligus. Hal ini membutuhkan kerja keras dan disertai pula kerja cerdas. Pengembannya harus bekerja dalam dua dimensi pada waktu yang sama. Selain ia harus menyiapkan kapasitas intelektualnya dalam teori-teori dengan memperbanyak referensi literature tentang dunia kerjanya. Disisi yang lain iapun harus mencari pengalaman-pengalaman praktis dalam kerja-kerja tekhnis di lapangan. Semoga Allah senantiasa menghadirkan orang-orang yang amanah ditengah-tengah kita. Aamii…

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tabiat Manusia; Tak Ada ‘Lawan’, Kawanpun Jadi

Kerinduanku untuk menulis rasanya sangat memuncak dan tak tertahankan hingga akhirnya kusempatkan waktu yang sesungguhnya banyak hanya managemennya yang belum maksimal. Topic yang masih selalu menarik untuk didiskusikan sampai hari ini tak kan jauh dari tema besar yang selama ini menggumul dalam pikiran dakwah dan pada khususnya dakwah kampus.

Ini tentang tabiat manusia, ya manusia sejak zaman dahulu kala. Mari sejenak kita kembali belajar sirah Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Pernahkah kita bertanya kenapa para sahabat dan sahabiyah dulu sangat membaja ukhuwah islamiyahnya? Sebagaimana kisah-kisah inspiratif yang bertebaran di kalangan para sahabat. Mulai dari kisah sahabat dari kaum anshar Sa’ad bin Rabi Al-Anshari yang rela berbagi harta bahkan rela ‘berbagi’ istrinya dengan sahabat dari kaum muhajirin Abdurrahman bin ‘Auf. Sampai yang paling fenomenal kisah para sahabat saat perang uhud yang memilih untuk tidak minum air yang diberikan kepada mereka demi mendahulukan saudaranya yang lain, padahal mereka dalam situasi sakaratul ma’ut. Itulah ukhuwah yang telah tercatat dalam sejarah kemulian islam yang tetap akan menjadi butiran hikmah sampai saat ini dan yang akan datang.

Lalu apa yang ingin kita bahas di sini? Mari kembali ke pertanyaan awal di atas. . Pernahkah kita bertanya kenapa para sahabat dan sahabiyah dulu sangat membaja ukhuwah islamiyahnya? Jawabannya tentu keimanan dan ketakwaan para sahabat itulah kuncinya. Benar dan sangat-sangat benar jawaban itu. Namun coba kita lihat dari spectrum yang berbeda, adakah factor lingkungan yang berpengaruh? Penulis meyakini bahwa salah satu factor kekuatan ukhuwah islamiyah para sahabat itu adalah lingkungan ketika itu yang memang ada scenario dari Allah. Lingkungan yang senantiasa memberikan tekanan dan tantangan terhadap kaum muslimin ketika itu menjadi salah satu factor penting pembentuk kekuatan ukhuwah islamiyah. Bagaimana tidak para sahabat dan kaum muslimin zaman itu adalah minoritas dan setiap saat selalu menghadapi ancaman baik berupa kekerasan verbal, fisik dan bahkan pembunuhan. Sehingga kaum muslimin pikirannya selalu tercurah untuk senantiasa waspada dan mencari cara bagaimana menghadapi tantangan-tantangan itu bahkan mungkin kaum muslimin ketika itu tak sempat memikirkan diri mereka sendiri.

Apa pula kaitan dengan kondisi kekinian dakwah kita sekarang wabilkhusus dakwah kampus? Ada khusus dakwah kampus di tempat penulis menimba ilmu dan menemukan makna kehidupan ini. Bahwa kondisi hari ini sering terjadi friksi dan tak jarang ada kekeruhan yang kadang kala menyebabkan ukhuwah antar sesama aktivis melemah. Yang paling parah berakibat pada terhambatnya aktivitas dakwah karena para aktivis disibukan dengan saling mengkritisi.

Maka dari itu mari kita belajar menyelami sejarah Rasulullah SAW dan para salafus sholih. Jikalau ingin membuat dakwah ini dinamis lagi perlu kiranya para penggiat dakwah di kampus memikirkan dan mencari tantangan dari luar sehingga tak disibukkan oleh friksi internal, bilapun perlu tantangan atau lawan itu ‘diciptakan’. Karena tabiat manusia memang tak ada lawan dari luar kawanpun jadi. Pesan sang Fisikawan yang menyejarah sekaligus penemu teori relativitas layak untuk direnungkan. “Adalah sebuah kegilaan bila melakukan sesuatu dengan cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda” (Albert Einsten).. Allahu A’lam bishawaf.

Posted in Uncategorized | Leave a comment